Memasuki era 2000-an, mobil makin sering dijadikan elemen utama dari naskah sebuah film. Kaum milenial pasti familiar dengan mobil-mobil di film The Fast and The Furious yang tayang 2001 silam. Yang kemudian sampai hari ini, sukses memberi karakter dalam potret “car scenes” di Indonesia.

Tapi tahukah Anda, jauh sebelum Dominic Toretto dan Brian O’Conner, tak terhitung jumlah film yang mengusung mobil sebagai cerita utamanya meski tak semua populer. Nah, berikut ini kami ulas setidaknya 9 car movies paling memorable sepanjang masa sebelum era milenial.

Genevieve (1953)

Genevieve_movie

Film komedi ini memiliki latar belakang balapan dari London ke Brighton memakai mobil klasik veteran, Darracq 1904, dan Spyker 1905. Sepanjang perjalanan, penonton disuguhkan kisah jenaka dua pasang pembalap yang harus memakai segala cara untuk mencapai finish.

Yang menarik, film ini tersedia dalam format full color, sebuah terobosan yang terbilang baru di zamannya. Apalagi pada film disuguhkan kehidupan kota London masa lalu, lengkap dengan lalu lintas dan tremnya. Tentu saja hal tersebut menjadi pemandangan yang mengagumkan bagi kita yang hidup pada saat ini.

Thunder Road (1958)

thunder_road2
Film ini menceritakan soal pelarian para penyelundup minuman keras melewati jalanan khas bagian tenggara Amerika Serikat, di atas mobil-mobil klasik macam Ford dan Chevrolet dari dekade ’50-an. Dalam perjalanannya, terjadi kisah-kisah menarik, termasuk kaitannya dengan kelahiran NASCAR.

Film ini pun menjadi cult classic di kalangan pecinta otomotif, dan sempat menjadi film populer pada masa drive-in movie theatres medio 1970-1980. Thunder Road dengan bintang Robert Michum, dikenal juga sebagai film terbaik di masanya yang berfokus pada aksi pengejaran mobil.

Grand Prix (1966)

Gran_Prix
Film ini sukses meraih tiga piala Oscar, terlepas dari plot dan akting para pemerannya yang “garing”. Meski begitu, film Grand Prix disebut sebagai sebuah pencapaian luar biasa yang mungkin tak akan ditemui lagi di film lain. Dengan akses langsung merekam sesi F1 musim 1966, sutradara John Frankenheimer sampai mengadakan rekayasa start dengan grid penuh tepat sebelum race.

Selain menampilkan mobil dan pembalap sungguhan, kecelakaan dibuat tanpa efek komputer melainkan meriam hidrogen untuk meluncurkan mobil. Kamera on-board yang belum umum dipakai pada saat itu, membuat jalanan Monte Carlo dan trek oval Monza terlihat spektakuler dan menegangkan.

Bullitt (1968)

bullit
Kota San Francisco sudah menjadi ikon popular culture sejak dulu. Namun nampaknya tak ada yang lebih fenomenal daripada aksi kejar-kejaran antara Ford Mustang GT 390 fastback dan Dodge Charger R/T 440 Magnum selama 7 menit di sana. Hal itu terjadi dalam film Bullitt.

Dengan bintang utama Steve McQueen, lompatan, senggolan, dan ledakan mobil di film ini begitu fenomenal. Maka tak heran jika akhirnya, adegan pengejaran dalam film ini mendapat pengakuan sebagai yang terbaik sepanjang sejarah! Begitu populernya sampai Ford merilis Mustang Bullitt edisi 2008.

Le Mans (1971)

Porsche-917-
Steve McQueen batal membintangi film tentang F1, karena konflik dengan Grand Prix. Tetapi “The King of Cool”—julukan McQueen—tidak berhenti begitu saja. Ia pun membintangi film Le Mans yang ditulis Harry Kleiner.

Demi realisme, balapan 24 jam Le Mans 1970 direkam langsung oleh Porsche 908 Spyder yang dilengkapi tiga kamera bergerak, yang dilibatkan sebagai peserta. Tapi sayang alur cerita yang membosankan membuat film tak terlalu sukses secara komersial. Bahkan “casual viewer” pun bisa tertidur di tengah film.

Namun bagi maniak otomotif, menikmati pertarungan Porsche 917 dan Ferrari 512 sampai selesai di salah satu sirkuit legendaris, tentunya menjadi kesenangan tersendiri. Sayangnya, David Piper salah seorang pembalap yang terlibat dalam film ini harus kehilangan kakinya dalam suatu kecelakaan saat shooting.

Gone in 60 Seconds (1974)

eleanor-gone-in-60-seconds-1
Apa yang akan Anda lakukan jika ditawari 400 ribu dolar untuk mencuri 48 mobil? Maka seperti memprovokasi penonton, Maindrian Pace (tokoh sentral) pun berusaha memenuhi tawaran itu. Uniknya, film ini mempopulerkan replika Mustang “Eleanor” di pasaran, dan sempat dibuat remake-nya tahun 2000 silam dengan Nicolas Cage sebagai pemeran utama.

Dengan set Long Beach, California, durasi car chase yang panjang menjadi tujuan memuaskan para “petrolhead” yang ingin melihat aksi berbagai jenis mobil. Terbangnya Mustang Mach 1 di akhir cerita, membawa film ini meraup untung 40 juta dolar, dengan modal pembuatan hanya 150 ribu dolar saja!

The Cannonball Run (1981)

Cannon-Ball-Run
Dengan nama familiar seperti Burt Reynolds, Roger Moore, dan Jackie Chan, The Cannonball Run yang bergenre komedi ini menyusul kesuksesan Smokey and The Bandit (1977). Bercerita tentang balapan cross-country yang diikuti sejumlah pembalap eksentrik. Masing-masing dengan mobil mereka yang unik, termasuk hadirnya Lamborghini Countach LP400S dan Aston Martin DB5 yang merupakan parodi dari film James Bond.

Heart Like a Wheel (1983)

dl-shirley-muldowney-mustang
Diangkat dari kisah nyata Shirley Muldowney, pembalap perempuan yang menyabet tiga gelar NHRA (National Hot Rod Association) Top Fuel, setelah awalnya membalap di jalanan New York. Menikah pada usia 16 tahun, sang suami awalnya mendukung karir balap First Lady of Drag Racing ini, namun ia bercerai dan disepelekan sang suami.

Selain masalah pribadinya itu, Shirley yang diperankan oleh Bonnie Bedelia juga menemui sejumlah rintangan dari asosiasi balap NHRA sendiri karena gendernya. Namun akhirnya ia bisa menutup lembaran buruk itu dengan manis dan menginspirasi. Ini adalah salah satu Car Movies yang terbilang sukses, membahas biografi pembalap perempuan.

Ronin (1998)

ronnin
Lebih dari tiga dekade setelah film Grand Prix, sutradara John Frankenheimer masih berkarya dengan dirilisnya Ronin dengan latar belakang kota Paris. Dibintangi Robert DeNiro, Jean Reno dan beberapa nama tenar lain, adegan car chase-nya disebut-sebut yang paling fenomenal karena konon melibatkan ratusan stunt drivers.

Film ini menampilkan mobil-mobil Eropa dan sinematografi khas Frankenheimer. Salah satu scenes menarik adalah pengejaran terakhir melawan arus lalu lintas ramai dalam kecepatan tinggi. Adegan itu selalu membuat penonton menahan nafas, dan membuat titik klimaks film sangat menegangkan.