Industri Otomotif Diminta Kemenperin Produksi Ventilator, Sanggupkah?

0
Foto: tempo.co
- Advertisement -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meminta industri tekstil hingga otomotif dalam negeri ikut turun tangan untuk menanggulangi pandemi virus corona alias Covid-19. Melalui keterangan tertulis, ia meminta industri tekstil dalam waktu dekat bisa memproduksi masker dan alat pelindung diri (APD) untuk memasok kebutuhan para tenaga kesehatan dalam menangani pasien. Kemudian, industri farmasi juga harus mulai mengembangkan obat modern asli Indonesia (Fitofarmaka) yang berbasis alam.

Sementara itu, dalam keterangan persnya, industri otomotif didorong untuk bisa memproduksi alat kesehatan seperti ventilator atau alat bantu pernapasan. “Untuk supply ventilator, akan dibuat prototipe sederhana yang dapat diproduksi massal melalui kerja sama antara industri otomotif dengan industri komponen,” kata Agus, Jumat (27/3) lalu.

Diketahui, Ventilator adalah mesin yang berfungsi untuk menunjang atau membantu pernapasan. Seringkali diperlukan oleh pasien yang tidak dapat bernapas sendiri, baik karena suatu penyakit atau karena cedera yang parah. Tujuan penggunaan alat ini adalah agar pasien mendapat asupan oksigen yang cukup.

Foto: 123rf
Foto: 123rf

Melalui ventilator, pasien yang sulit bernapas secara mandiri dapat dibantu untuk bernapas dan mendapatkan udara secara normal. Mesin ventilator akan mengatur proses menghirup dan menghembuskan napas pada pasien. Proses memompa udara berlangsung selama beberapa detik untuk menyalurkan oksigen ke paru-paru pasien. Lalu berhenti memompa agar udara keluar dengan sendirinya dari paru-paru.

Mengingat Pasien Virus Corona (Covid-19) terkonfirmasi di Indonesia sudah mencapai angka ribuan. Berdasarkan data pemerintah pusat yang masuk hingga Selasa (31/3/2020) pukul 15.32 WIB, total pasien positif sebanyak 1.528, Sembuh 81, dan Meninggal 136. Jumlah ini bertambah sekitar 114 pasien dalam 24 jam terakhir.

Pada kesempatan yang sama, Menperin juga mengungkapkan bahwa sampai empat bulan ke depan dibutuhkan 12 juta APD untuk tenaga medis. Adapun APD yang dibutuhkan ialah pakaian, caps, towel, sarung tangan, pelindung kaki, pelindung tangan, dan kacamata pelindung wajah (goggles). “Dengan kondisi seperti saat ini, kemungkinan demand dapat bertambah hingga 100 persen, bahkan 500 persen,”tuturnya.

Selain itu, pemerintah juga telah menerbitkan stimulus ekonomi berupa pembebasan sementara bea masuk bahan baku industri, kemudahan importasi bahan baku, serta penjaminan ketersediaan pasokan pangan stategis. Langkah tersebut guna melancarkan proses produksi.

Tanpa Pendampingan

Imbauan Kemenperin kepada industri otomotif nasional untuk memproduksi Alat kesehatan atau ventilator mendapat respons  dari  Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Pasalnya  permintaan pemerintah yang ingin agar anggotanya membantu penanggulangan wabah corona (Covid-19) dengan memproduksi ventilator. Gaikindo menyatakan pada dasarnya semua anggota yang memiliki pabrik di dalam negeri siap menyanggupi. Namun produsen dikatakan butuh pendamping untuk memenuhinya.

Dikutip dari laman detik.com, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengatakan produsen mobil membutuhkan rekan kerja yang kompeten  dalam pembuatan ventilator. Nangoi mengatakan itu berkaca pada produsen mobil Amerika Serikat yang menjalin kerjasama dengan perusahaan pembuat alat-alat medis.

“Tapi karena peralatan ini sangat sensitif dan teknologinya tidak mudah. Maka kami membutuhkan partner. Lihat saja di Amerika seperti Ford dan GM, itu ada perusahaan alat medis yang sudah pengalaman,” kata Nangoi belum lama ini.

Foto: tribunnews
Foto: tribunnews

Nangoi menjelaskan partner kerja tersebut nanti bakal membantu produsen mulai dari menjabarkan blueprint terkait teknis pembuatan ventilator, alih teknologi, dan memodifikasi fasilitas perakitan mobil agar dapat digunakan memproduksi ventilator. “Kemudian partner yang sudah berpengalaman itu menentukan standar bahan baku kepada supplier, nah kami hanya membantu menjahitkan,” ujar Nangoi.

Nangoi menjelaskan hingga saat ini pemerintah belum menentukan partner kerja produsen otomotif sebagai kelanjutan arahan membuat ventilator. “Ventilator ini tidak bisa sembarangan, kami tidak punya pengalaman dan keahlian. Tapi mungkin kalau kami disuruh buat tempat tidur rumah sakit kami lebih berani kalau karena kalau misalnya tidak presisi, ya tidak gapapa. Kalau ini alat medis harus presisi dan sebagainya,” ungkap Nangoi.

Permintaan produsen otomotif memproduksi ventilator sudah disampaikan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Berkaca pada Negeri Tirai Bambu, China, salah satu produsen mobil BYD yang bermarkas di Wuhan turut memproduksi masker untuk berkontribusi mencegah penyebaran wabah Covid-19. Pabrikan ini beralih fungsi sejenak menjadi produsen masker kesehatan.  Seperti yang diberitakan oleh kantor berita Reuteurs belum lama ini. Sejak akhir bulan Januari, BYD telah memproduksi masker sebanyak 5 juta unit per hari. Tak hanya itu, mereka juga mampu memproduksi sekitar 300.000 botol hand sanitizer per hari.

Selain pabrikan BYD, perusahaan otomotif yang berbasis di China lainnya yaitu SAIC-GM-Wuling Automobile juga ikut memproduksi masker. Nantinya, masker-masker tersebut akan didistribusikan kepada masyarakat di China, rumah sakit, dan transportasi umum.

Apakah pabrikan mobil di Indonesia perlu mengikuti langkah ini petrolhead?

- Advertisement -