Dekade 1980-an hingga 1990-an, istilah JDM alias Japan Domestic Market begitu populer di kalangan auto enthusiast. Bisa diartikan sebagai mobil hanya dibuat khusus untuk pasar Jepang. Atau mengacu pada spesifikasi model JDM yang seringkali berbeda jika dibandingkan model ekspor.

Eksklusivitas ini menjadikan tren JDM muncul di berbagai belahan dunia. Gaya hidup ala JDM yang dimaksud di sini adalah memodifikasi mobil menjadi seperti model yang khusus dijual di Jepang, mulai dari mengganti emblem, lampu, bumper, interior, hingga mesin.

Hal ini popular di kalangan pecinta mobil Jepang di Indonesia dan AS, atau negara dimana mengimpor mobil bekas dilarang. Sementara itu di Inggris, Selandia Baru, Russia, serta di beberapa negara lain, penggemar mobil JDM dapat mengimpor mobil bekas dari Jepang.

JDM Cars Legend

Asal muasal eksklusivitas JDM bisa ditelusuri mulai dari saat Industi otomotif Jepang mulai berkembang cepat pada akhir 1960-an dan awal tahun 1970-an seiring dengan stabilnya ekonomi Jepang. Di era tersebut banyak rakyat Jepang yang sudah mampu membeli mobil baik sebagai status simbol, hobi, atau sekadar alat transportasi. Untuk golongan menengah atas, gaya hidup orang Jepang mulai mengikuti gaya hidup orang barat, terutama Amerika. Hal ini ditandai dengan cukup banyaknya peminat mobil sport coupé yang fun-to-drive seperti Toyota Celica, Nissan Skyline dan Fairlady, maupun versi 2 pintu dari sedan popular seperti Toyota Corolla dan Nissan Sunny.

Meskipun transportasi umum di Jepang sudah sangat baik seperti jaringan kereta api yang praktis dan modern, Jepang adalah salah satu negara dengan penjualan mobil terbanyak di dunia. Banyak rakyat Jepang yang menyukai mobil compact sejenis Corolla, dan mobil mini yang disebut Kei Car bermesin dibawah 1,0 liter. Ukuran mobil tersebut sangat cocok dengan situasi dan kondisi jalan di Jepang yang relative sempit dan berbukit. Sementara itu mobil besar seperti Toyota Crown banyak digunakan untuk kendaraan dinas perusahaan, instansi pemerintah, serta armada polisi dan taxi.

Memasuki dekade 1980-an pilihan mobil Japan Domestic Market makin bertambah seiring dengan perubahan gaya hidup dan kondisi ekonomi Jepang yang terus membaik. Kurs mata uang Yen terhadap US Dollar semakin menguat. Sekarang lebih banyak konsumen kelas menengah yang membutuhkan mobil untuk keluarga

JDM Cars meet

Selain sedan konvensional, hardtop (sedan dengan frameless window, baik dengan atau tanpa B-pillar) juga sangat populer. Antara tahun 1986 dan 1991 bukan hanya industri mobil Japan Domestic Market yang mengalami masa jayanya, begitu pula dengan bursa saham dan industri property di Jepang. Kondisi ini dikenal dengan sebutan Japanese asset bubble price. Harga rumah di Jepang melambung tinggi dengan cepat.

Akhir tahun 1991, harga properti turun drastis dan ini membuat kondisi ekonomi Jepang menjadi sulit. Imbasnya juga berdampak pada industri mobil JDM. Pada kondisi ekonomi sulit ini (The Lost Decade), industri mobil Jepang merevisi line up agar biaya produksi lebih efisien.

Sebagai contoh pada tahun 1980-an, line up Nissan sangat rumit seperti di kelas mobil kompak selain Sunny juga ada Laurel Spirit dan Pulsar dan model turunannya bernama Langley dan Liberta Villa. Nissan juga menjual Stanza, Auster, dan Violet yang sedikit lebih besar dari Sunny dan Pulsar, serta Bluebird yang mirip Stanza dan tersedia dalam versi yang sangat banyak. Masih ada beberapa mobil yang sama dengan nama berbeda melalui jaringan yang berbeda seperti Silvia dan Gazelle, serta Cedric dan Gloria.

Toyota sebagai market leader juga menawarkan berbagai varian dari line-up yang banyak. Contoh dapat dilihat pada Corolla sebagai mobil terlaris di Jepang. Pada tahun 1990 ada 109 varian Corolla berbeda dijual di Jepang. Jumlah sebanyak itu masih ditambah oleh sekitar 80-an model Sprinter yang merupakan sister car dari Corolla. Konsumen juga dapat memilih varian yang sangat banyak dari Carina, Crown, maupun Mark II.

Line up lain yang juga cukup banyak adalah Honda Civic dan Mazda Familia. Banyaknya varian ditawarkan pada waktu itu disebabkan sebagian besar model tersedia dengan transmisi manual dan otomatis. Tidak seperti di tahun 1970-an yang kebanyakan manual, atau sekarang yang hampir semuanya otomatis. Pastinya produsen ingin memenuhi segala kebutuhan dan keinginan karakter konsumen yang sangat beragam.

Screen Shot 2020-04-27 at 00.38.43

Banyaknya model dan varian mobil Japan Domestic Market dipasarkan membuat produsen memiliki cara distribusi yang unik. Toyota memiliki 5 distribution channel yaitu Toyota, Toyopet, Corolla, Auto, dan Vista (dua channel terakhir sekarang berganti nama menjadi Netz). Jika konsumen ingin membeli sebuah Corolla atau Celica, maka dia harus ke dealer Corolla, bukan ke dealer Toyota. Begitu pula dengan berbagai mobil JDM Honda yang dijual melalui jaringan dealer Primo, Verno, dan Clio. Nissan dan Mitsubishi juga menerapkan konsep yang sama.

Mazda melakukan hal yang paling unik dalam memasarkan produk JDM-nya. Jika Toyota dan beberapa merk lainnya hanya memisahkan jalur distribusi dengan berbagai nama dealer, maka Mazda juga menerapkan nama dealer pada produknya. Contohnya RX-7 tidak disebut Mazda, tetapi efini (baca: Anfini) RX-7. Sedangkan MX-5 Miata disebut Eunos Roadster karena dijual melalui dealer Eunos. Mazda K-car diberi nama dan dipasarkan oleh dealer Autozam. Namun tidak seperti Toyota yang tetap dengan multi- channel sampai sekarang, Mazda multi brand hanya bertahan beberapa tahun.

Kini JDM adalah bagian dari nostalgia. Selain K-Car dan beberapa segelintir model seperti Corolla Axio / Fielder, pabrikan tak lagi mengeluarkan model JDM. Apa ada di Jepang, kemungkinan ada di China, Amerika, semenanjung Arab, atau wilayah lainnya.