Material Serat Karbon Makin Diminati Pabrikan Kendaraan, Ini Keunggulannya

Material serat karbon sudah mulai populer di dekade 1970-an silam. Material berjenis komposit ini berkontribusi  menambah kecepatan kendaraan saat melaju di lintasan. Karena karakteristiknya, serat karbon jauh lebih ringan dibandingkan logam. Jika proses pembuatannya mumpuni, permukaan serat karbon akan lebih kuat dari besi sekalipun.

Perlu diketahui, serat Karbon dibuat bahan baku yang disebut prekursor, terdiri dari sembilan puluh poliakrilonitril (PAN) dan 10 persen rayon atau petroleum pitch. Bahan-bahan tersebut merupakan polimer organik. Dengan kata lain, serat ini terdiri dari dua atau lebih material berbeda yang mana jika digabungkan dapat membentuk material dengan karakteristik baru.

Foto: img.benvely

Kuat atau tidaknya hasil komposit tersebut tergantung tingkat ketepatan campurannya. Maka, prekursor masing-masing pabrikan mobil juga bervariasi. Agar menghasilkan komposit serat karbon dapat terbentuk kokoh, anyamannya dapat diletakkan pada sebuah cetakan dan diberi resin sebagai penguat, biasanya berbahan epoxy atau plastik.

Material komposit satu ini banyak digunakan oleh pabrikan otomotif untuk mereduksi bobot kendaraan. Sedangkan di ranah motorsport penggunaan serat karbon tercantum dalam standar regulasi Corporate Average Fuel Economy (CAFE).  Bahan tersebut dapat meningkatkan tampilan kendaraan dan menciptakan skala ekonomi produk. Karena alasan tersebut, material  serat karbon mulai diaplikasikan pada kendaraan hybrid hingga full electric.

Sebagai salah satu material aksesori berkelas, pemasangan panel karbon pada tuning mobil umumnya mempertimbangkan fungsinya untuk mengurangi bobot, pada bagian kap mesin, fender, hard top hingga sejumlah panel bodi. Penggantian ini berefek pada pengurangan bobot yang signifikan, bisa mencapai 50 persen dari berat komponen aslinya.

Foto: Motor1.com

Kelebihannya terutama dari sisi kekuatan dan bobot yang lebih ringan jika diaplikasikan. Karakternya kuat jika mendapat tekanan tegak lurus, nyaris menyamai kekuatan baja. Karena keunggulan dan karakter yang dimiliki relevan dengan kebutuhan industri otomotif di era elektrifikasi ini.

Selain poin akselerasi dan efisiensi mobil yang biasanya diganti menggunakan spek kompetisi. Ikhwal konstruksi kendaraan material ini amat berkontribusi memangkas bobot kendaraan hingga 6%, konsumsi bahan bakar lebih efisien hingga 30%  dan juga dapat mengurangi emisi kendaraan hingga 20%. Tak heran kalau pengaplikasian material paling diminati ini nantinya bakal berkonjungsi dengan kecanggihan teknologi.

Sebagai simulasi, sebuah mobil berjenis sedan dengan bobot mencapai 1.500 kg yang berkapasitas tenaga 110 hp memuat rasio 13,6 kg/hp. Jika ditambah dengan material karbon, bobotnya dapat dikurangi hingga mencapai 600kg dan rasio bobot per tenaga meningkat sampai 5,4 kg/hp atau setara kendaraan seberat 1500 kg dengan tenaga mencapai 277 hp.

Sama seperti BMW MH1 CSL yang digarap Auto Racing Technic (ART) dan Manhart Performance. Sport gahar garapan tuning asal Jerman ini digarap di Indonesia, dikomandoi oleh Adam Radkowski, Technical Director Manhart Performance.

MH1 CSL mengalami “diet” ketat di sejumlah bagian eksterior seperti kap mesin, bumper depan-belakang, fender depan-belakang, splitter hingga bagasi dengan ducktail. Serangkaian komponen bodi tersebut berbahan serat karbon. Senada dengan nama lightweight yang disematkan,  dengan basis mobil BMW 1M standar seberat 1513 kg menurun hingga sekitar 60 kg. Menjadikan bobot kendaraan seberat 1450 kg.

Memakai body shell BMW 1M coupe yang kompak, dicangkokkan mesin V8 berkode S65 milik BMW M3. Mesin 4.000cc naturally aspirated ini menggantikan mesin TwinPower Turbo bawaan 1M coupe karena memiliki respon yang lebih baik pada semua putaran. Selain itu, ECU-nya sudah diprogram dengan sofware khusus Manhart Performance sehingga bisa menghasilkan tenaga sebesar 450 hp.

Sedangkan apabila diaplikasikan pada interior mobil, jenis material serat karbon dapat menangkal sinar UV sehingga mencegah penurunan kualitas dashboard dan mencegah timbulnya karat pada bagian tertentu. Terlebih dapat meningkatkan estetika kendaraan lebih eksklusif. Namun segala keunggulan material berjenis komposit ini tetap memiliki kekurangan di dalamnya.

Foto: Mazda

Belum lama ini Mazda merilis Carbon Editions untuk line up terbarunya, Crossover Mazda CX-5 , CX-9 serta sedan Mazda 6. Sejumlah ubahan berbahan serat karbon diimbuhi pabrikan di komponen interior dan eksterior. Ketiga line up produk terbarunya, Mazda mengaplikasikan warna Polymetal Gray untuk ketiga model Carbon Editions ditambah dengan aksen-aksen hitam gloss pada bagian spion dan juga velg.

Sejumlah komponen berbahan serat karbon dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Misalnya seperti seperangkat Body Kit, panel eksterior, panel interior hingga bucket seat. Dengan selisih hingga mencapai 50% dari harga komponen dengan material pada umumnya. Selain itu, jika mengalami kerusakan material ini harus melalui resin ulang untuk merekatkan kembali anyaman tersebut. Hal ini dapat ditempuh jika serat karbon di garap dengan komposisi khusus. Belum lagi limbah serat karbon tidak dapat di daur ulang.

Related Articles

Stay Connected

21,604FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Latest Articles