Modifikator Rangga Erlangga Polnaja: Banyak Ide Muncul dari Oprek Kendaraan Tua

0
Foto: Instagram @rangga13demonsta
- Advertisement -

NMAA News – Jauh sebelum terlibat langsung di berbagai proyek modifikasi, Rangga Erlangga Polnaja memang sedari kecil menggemari kendaraan bermotor. Tepatnya, mobil dan motor lawas dari koleksi milik Ayahnya, Jeffrey Polnaja.

Momen ketika dia mengenal seputar kendaraan bermotor sampai modifikasi bermula saat sering melihat Ayahnya ‘ngoprek’ sampai ikut road trip ke luar kota. Dari sinilah minat, bakat, dan passion Rangga terbentuk.

“Gua ngerasa kalau kegemaran orang tua di dunia otomotif mengalir langsung ke dua anaknya. Jadi waktu gua kecil sering ikut acara-acara mereka. Sampai akhirnya gua notice tuh kalau kedua orang tua memang sudah berkiprah di dunia otomotif, juga terlibat di komunitas-nya,” buka Rangga kepada nmaa.co.id

Seiring waktu bergulir, putra pertama dari pasangan Jeffrey Polnaja dan Ermillia Yogasuria ini melakukan solo touring yang dimentori langsung oleh Ayanya.

“Waktu gua SMP kelas 1 atau kelas 2 kayaknya, bokap ngajak touring dari Bandung sampai Bali. Gua dipilihin motor pakai BMW R25 kalau bokap pakai BMW R50. Perjalanan dua minggu ini yang membentuk pribadi gua sampai sekarang,” ingatnya saat menggali kenangan belasan tahun lalu.

Touring pertama inilah salah satu faktor yang membentuk dirinya menjadi modifikator andal sampai sekarang. Apalagi, saat itu dia mengendarai motor Eropa lawas yang punya perlakuan tersendiri. Berbeda dengan motor – motor yang saat itu sudah beredar di Indonesia.

“Waktu touring motor dipake jauh sampai ceket. Karena baru pertama, awalnya sih ngerasa panik. Tapi terus dimotivasi bokap supaya ke depannya terbiasa mengenal trouble umum yang sering dialami,” papar modifikator kelahiran Bandung, 9 Februari 37 tahun lalu ini.

“Akhirnya seiring waktu gua mengenal arti sebuah motor lawas buat memicu kreativitas pemiliknya. Kayak misalnya kalau mogok, kita udah tau solusinya biar minimal normal lagi,” sambung Rangga.

Lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi, Rangga mulai bereksperimen dengan berbagai tema modifikasi mobil dan motor.

Mulai dari tema racing, stance, JDM, sampai off-road dan Restomod. Sulit baginya menyebut mobil modifikasi paling berkesan, baginya mobil paling berkesan yang dijalani dengan segenap suka duka dirangkum dalam empat unit kendaraan lawas.

“Kalau mobil paling berkesan Chevrolet BLR 1956 sama Karman Ghia 1964. Nah, BMW R25 kuaci sama BMW R50 punya kenangan paling berkesan buat gua,” sebutnya.

Foto: Instagram @ranggademonsta

Bukan masalah berarti bagi Rangga saat pindah basis kendaraan untuk dimodifikasi. Menurutnya, kendaraan lawas atau klasik tetap memicu kreativitas dirinya yang kemudian ditularkan ke beberapa teman satu tongkrongan, komunitas dan car enthusiat dan modifikator lebih luas.

“Pindah basis mobil dari klasik ke modern enggak terlalu rumit jadinya. Karena sudah terbiasa main motor atau mobil klasik. Selanjutnya tinggal kita beradaptasi aja, gimana nih ngejar detail modifikasi, melahirkan sebuah karya yang perfect. Karena modifikasi itu kan seni, seorang builder modifikasi punya ide berdasarkan pengalaman dan referensi yang didapatnya,”ujar modifikator di balik ProRock Jakarta tersebut.

Berubah Arah

Sepak terjang Rangga di dunia modifikasi awalnya tidak secara instan. Dia merasa banyak pelajaran yang didapatnya. Pasang surut di dunia modifikasi makin terasa dari tahun ke tahun.

Di ranah kontes modifikasi acuan mobil kontes peraih titel juara pasti menyasar ke banyak ubahan, termasuk tampilan bodi lebih ekstrem.

Mobil-mobil monster pun bermunculan, bahkan tidak bisa dikenali dari versi standar pabrikan yang bertransformasi ke versi modifikasi lebih advance.

“Memang predikat The King itu dimenangkan sama mobil modifikasi ekstrem. Pokoknya kalau mobil itu masih dikenali wujudnya dianggap enggak modif aja. Beda sama sekarang, begitu tren modifikasi proper mulai banyak diikuti sama sejumlah modifikator. Perlahan, gaya modifikasi yang ekstrem-ekstrem itu enggak jadi patokan lagi,”ungkapnya.

Foto: NMAA

Sebagai gantinya, modifikator yang main ekstrem sekarang malahan ngebangun mobil lebih proper dengan memperhatikan aspek-aspek penting.

Salah satunya, memastikan mobil bisa dipakai di jalan raya dan aman buat harian.” Percuma budget modifikasinya besar, semua sektor dirubah kalau mobil itu enggak proper,”sambungnya.

Ada beberapa mobil modifikasi garapan Rangga meraih gelar mobil proper di pameran Indonesia Modification Expo. Seperti Suzuki Ignis di IMX 2018, dan dua mobil The Ultimate Toyota FJ Cruiser di IMX 2019, dan Toyota Hilux berkonsep Safari Off-road di IMX 2021.

Saat ditanyai apakah kegemarannya tersebut akan dilungsurkan ke anak semata wayangnya. Rangga menyampaikan sebuah petuah jika kelak anaknya bisa mengikuti legacy darinya.

“Kalau ke anak sebenernya dibebaskan aja. Patokannya sama kayak bokap dan nyokap bilang ke gua. Modifikasi kendaraan itu boleh, tapi jadiin hobi aja. Kita juga belum bisa mastiin apakah dia bakal punya kegemaran yang sama dan punya ide membangun bisnis dari industri ini atau tidak. Orang tua hanya bisa mengarahkan yang terbaik buat masa depan anaknya,” pungkas Rangga.

- Advertisement -