NMAA News – Bicara tren velg, sebenarnya paralel dengan perkembangan yang berlangsung di dunia modifikasi. Aplikasi velg racing merupakan komponen utama yang bisa memperkuat karakter dan hasil akhir sebuah karya modifikasi.
Masih belum lepas dari ingatan, ketika badai pandemi melanda Indonesia pada 2021-2022, dunia per-velg-an aftermarket di Tanah Air malah tumbuh begitu kuatnya. Industri velg racing baik lokal maupun bikinan Cina makin menjadi.

Ketika banyak petrolhead ‘terkadang’ gak bisa kemana-mana, salah satu cara ‘pelarian’ lepas dari kejenuhan di rumah, adalah mendandani mobil. Ganti velg, tentu satu dari sekian cara memberi perhatian mobil kesayangan; dengan cara pengerjaan paling mudah.
Pada 2022, sejumlah merek lokal mewarnai industri velg Tanah Air. Merek seperti DNZ Wheels hingga Pako Wheels mempersembahkan model yang tak kalah dengan desain produk velg internasional.

Pada 2023, tren velg domestik mulai ‘diserang’ kehadiran berbagai produk velg China yang semakin massif. Kondisi ini menjadi alternatif pemilihan velg semakin luas. Baik dari segi desain, ukuran atau harga yang tentunya sangat bersaing dengan velg produk Jepang dan Amerika Serikat.
Tren velg pada 2024 dan 2025 lebih diisi dengan kompetisi ketat antar merek untuk meraih porsi pangsa pasar yang semakin sempit. Mulai dari velg one piece, two-pieces, hingga three-pieces.

Bahkan di dua tahun belakangan ini pula, ketika banyak produk velg baru bermunculan, velg beraroma retro kembali meruyak ke permukaan. Banyak velg desain jadul kembali dicari dan diminati.
Gak heran, kalau ‘gorengan’ harga velg legendaris yang berusia lawas makin kerap ditemui. Tren ini tentunya paralel dengan langkah restomod yang berafiliasi ke aliran klasik-retro yang belakangan makin menguat.

Hal seperti ini turut diamini Amin Sutiono, pemilik dan pelaku modifikator dari gerai khusus velg Autostyle yang berada di kawasan Sunter Kemayoran, Jakarta Utara. Menurutnya, tren velg di 2026 ini sebenarnya terbagi dua aliran’
“Konteks pemilihan aplikasi velg di tahun ini prediksinya makin menguat dalam dua kubu. Kubu atau aliran pertama, mereka yang demen velg jadul dengan tampilan celong pakai lips tapi dipasangnya ke mobil kekinian atau motuba,” buka Amin.

Lalu kubu kedua, yang memilih aliran penyuka velg monoblock simple yang berukuran 15 hingga 22 inci. “Mereka ini punya cita rasa akan desain yang lebih bebas, tanpa terpaku pada motif yang disukai atau yang banyak dicari,” imbuh Amin.
Munculnya aliran kedua ini, tambah Amin, diisi oleh mereka yang memiliki kendaraan baru, termasuk model listrik (EV).

“Keterpikatan pada velg monoblock belakangan juga berangkat dari makin maraknya mobil listrik beredar saat ini. “Pemilik mobil listrik mulai banyak mendandani sektor roda. Karena faktor bobot, mereka lebih banyak pilih pattern monoblock,” jelas Amin.
Yang menarik, dari sekian model velg monoblock yang belakangan diminati kembali pemakai EV, berkisar pada model fin (jari-jari), 5-spokes (palang lima/bintang) dan model velg 6-spokes atau palang 6 yang terinspirasi velg sejuta umat Volk Racing TE37.

Untuk varian produk, menurut Amin ada 8 merek yang stabil dicari para konsumennya. Seperti merek Lenso, Rotiform, Enkei, Konig, Work Wheels, Rays, Wedsport dan HRE.
“Di tengah gempuran velg China, kualitas velg merek tersebut di atas yang masih menjadi alasan utama pembelian,” ungkap Amin. Tak heran, kalau jualannya Autostyle masih mengakar pada 8 merek tersebut.
Lucunya, tambah Amin, sekarang juga ada tren velg ‘FOMO’. “Banyak orang memilih produk dan model tersebut karena ‘latahan’ agar tidak dibilang ketinggalan jaman. Padahal belum tentu sesuai dengan konsep modifikasi atau bahkan desain mobilnya sendiri.”

“Seperti produk velg merek ‘anu’ itu yang modelnya jaring mesh begitu. Asli, saya sendiri bosen liatnya. Memang ga salah sih, tetep cakep, namun kadang jadinya suka maksa kesan tampilannya,” gelak Amin.
Hal lain yang bisa mempengaruhi tren velg, imbuh Amin, lebih pada hitungan harga jual bekasnya nanti. “Padahal velg kan bukan investasi. Tapi kebanyakan orang sini beli velg mirip kayak beli mobil, udah mikirin harga jualnya lagi, haha,” kata Amin.
Kondisi ini biasanya diperkuat berbagai ‘gorengan’ yang muncul menjamur seiring menguatnya influensi media sosial. “Seperti velg Brabus Monti itu om. Harganya menjulang tinggi ya karena salah satu efek gorengan renyah ini,” beber Amin.

Beralih ke soal ukuran velg yang bakal mendominasi di tren velg 2026, Amin juga memprediksi tidak jauh beda dengan sebelumnya. Apalagi mobil sekarang diakui memiliki ruang fender cukup lega yang memudahkan aplikasi velg berdimensi ekstrem.
“Kalau anak mobil biasanya naik 2 inci maksimal. Sedangkan kalo nubie pengin ganti velg biasanya diameter sama dengan bawaan pabrik. Namun nyari tapak lebih lebar dan offset lebih kecil agar fitment-nya pas di bibir fender,” pungkas Amin.
Foto-foto: Dok. Autostyle Indonesia

