Berkaca Kesuksesan Sirkuit Mandalika dan Peristiwa Sean Gelael, Rifat: Perlu Dukungan Pemerintah untuk Kendaraan Balap dan Perangkat Safety-nya

0
foto: tirto.id
- Advertisement -

NMAA News – Selain menjadi sirkuit balap mobil dan motor kelas dunia kebanggaan Indonesia, keberadaan Sirkuit Mandalika harus menjadi momentum bangkitnya dunia motorsport Indonesia. Dukungan Pemerintah diharapkan tidak hanya membangun sarana atau fasilitasnya saja, tapi juga diiringi kemudahan kebijakan bagi insan motorsport Indonesia untuk bisa memperoleh kendaraan balap, suku cadang performance, hingga perangkat keselamatan balap secara lebih mudah.

Hal tersebut diungkapkan Rifat Sungkar, pereli nasional senior dalam keterangan tertulis yang dikirim ke redaksi NMAA.co.id, Kamis (2/12/2021). Menurutnya, keberhasilan Mandalika menggelar event dunia pertamanya yaitu WSBK, turut membuat nama Indonesia dikenal seantero jagat. “Dan memang itulah salah satu tujuan dibangunnya Mandalika: mengangkat nama Indonesia di mata dunia, khususnya di dunia motorsport,” ucap Rifat.

Disampaikan Rifat, selain keberadaan Sirkuit Mandalika yang sudah diakui dunia, dirinya yakin, pemerintah dan pihak terkait pasti memiliki tujuan mulia lainnya yang ingin dicapai. Di antaranya, mencetak pebalap nasional untuk dapat berlaga di tingkat internasional.

Rifat Sungkar

“Dengan kata lain, kehadiran Mandalika diharapkan mendorong prestasi balap Tanah Air. Mungkinkah? Jelas sangat mungkin. Hanya saja diperlukan dukungan lain selain sarana yang keren seperti Sirkuit Mandalika ini,” ujar Rifat.

Dalam pandangan Rifat, sebagai cabang olahraga yang sangat tergantung pada peralatan dan perlengkapan, atlet motorsport setidaknya membutuhkan 2 hal utama. Yang pertama, kendaraan balap beserta teknologinya. Sementara yang kedua, perangkat keselamatan yang melindungi pembalap dari risiko fatal saat menekuni motorsport.

Sayangnya, dua hal mendasar itu tidak dapat mudah diperoleh insan motorsport Indonesia dari dalam negeri. Meski Indonesia menjadi pasar utama beberapa pabrikan mobil maupun motor, sedikit sekali yang menyediakan kendaraan dengan spesifikasi balap. Jikapun ada, kendaraan spesifikasi balap itu hanya tersedia di luar Indonesia.

“Meski begitu, bukan berarti mereka berpangku tangan. Dengan usaha sendiri, insan motorsport Indonesia mencoba membangun dan mengembangkan kendaraan balap dari mobil-mobil atau motor-motor yang ada di Tanah Air,” ungkap Rifat.

 

Menurutnya, mendatangkan peralatan untuk balapan dari luar negeri tidak mudah dan jelas jauh dari murah. Banyak pebalap Indonesia kemudian hanya mampu membeli kendaraan balap bekas dengan teknologi ketinggalan. Karena bekas, spare partnya pun tidak selalu tersedia. Akibatnya terjadilah proses kanibal mobil sejenis.

“Untuk membangun satu mobil balap, pebalap sampai harus membeli tiga mobil bekas. Yang satu dipakai untuk balapan, sementara yang dua dipereteli spare partnya untuk dijadikan cadangan jika ada yang rusak,” beber Rifat.

Kendati demikian, dengan segala keterbatasan yang ada, insan motorsport Indonesia mampu menggulirkan kejuaraan balap dengan konsisten dan selalu ramai. Sebelum pandemi Covid-19, jadwal balap di Indonesia mencapai lebih dari 100 event balap roda dua dan roda empat, dari tingkat provinsi hingga tingkat kabupaten.

Sayangnya, bibit-bibit yang bermunculan dari kejuaraan itu tidak dapat berkembang baik. Salah satu penyebabnya, lantaran sulitnya mendapatkan kendaraan balap yang dapat mengasah mereka menghadapi kejuaraan tingkat dunia.

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan perangkat keselamatan bagi pembalap. Tidak hanya yang menempel di badan pembalap, namun juga yang ada pada kendaraan balap, entah itu material maupun teknologinya.

Insiden yang dialami Sean Gelael dan Ketua MPR Bambang Soesatyo saat berlomba di ajang Sprint Rally Meikarta menjadi viral. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi keduanya yang dapat keluar dari mobil tanpa cedera berarti, meski mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan parah.

Rifat mengaku merinding melihat rekaman kecelakaan yang dialami Sean dan Bamsoet.  “Motorsport itu olahraga yang sangat berbahaya, oleh karena itu diperlukan peralatan mumpuni yang dapat melindungi pembalap dari risiko fatal,“ tegas Rifat.

Dan menurut Rifat, selamatnya Sean dan Bamsoet dari kecelakaan parah itu tidak lepas dari canggihnya peralatan keselamatan yang ada dalam Citroen C3. Seperti kita tahu Citroen C3 itu didatangkan langsung dari luar negeri dengan safety device yang mumpuni.

“Mobil yang ditunggangi Sean dirancang khusus untuk balapan spek WRC dan dilengkapi safety device mumpuni. Jika mobil yang dtunggangi adalah mobil balap berteknologi lama peralatan safety-nya juga sudah usang, mungkin ceritanya bisa lain lagi,” ucap Rifat.

Berkaca dari suksesnya gelaran di Sirkuit Mandalika dan peristiwa kecelakaan yang dialami Sean, seharusnya dapat menjadi momentum, bahwa kondisi motorsport Indonesia harus dapat ditingkatkan lebih dari sekadarnya seperti yang terjadi selama ini.

“Jangan berharap pebalap Indonesia dapat berbicara di arena dunia jika peralatan yang dipakai saja masih seadanya. Pihak-pihak terkait sudah harus memikirkan cara bagaimana pebalap Indonesia dapat memperoleh peralatan dengan lebih mudah,” lanjut Rifat.

Menurut Rifat salah satu cara adalah dengan mengubah beberapa aturan yang terkait dengan import kendaraan dan spare-partnya. Misalnya larangan jual beli blok mesin baru, berbelitnya aturan import mobil untuk balapan, juga pengenaan pajak yang tinggi untuk spare part peralatan keselamatan balap.

“Sebagai insan motorsport, saya pribadi memohon pemerintah untuk dapat memperhatikan kebutuhan olahraga balap ini. Mungkin lewat pelonggaran aturan yang memudahkan insan motorsport mendapatkan kendaraan dan peralatan balap. Apa yang saya minta ini semata meningkatkan prestasi balap Tanah Air sekaligus dapat melindungi dari risiko fatal yang kami hadapi,” papar Rifat.

Rifat berharap, meningkatkan prestasi atlet motorsport dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam memperoleh kendaraan dan peralatan balap yang memadai, dapat melindungi mereka dari risiko fatal. Sebuah keinginan sederhana yang seharusnya dapat terlaksana di tengah hadirnya sirkuit kelas dunia.

- Advertisement -