NMAA News – BYD mulai menunjukkan taringnya di pasar mobil Jepang. Mobil listrik mungil BYD Racco telah mengantongi 1.002 pesanan hanya dalam dua pekan sejak resmi dijual pada 28 Juli 2026.
Angka tersebut menjadi sinyal menarik karena Racco bermain di segmen kei car, kelas kendaraan yang selama ini sangat kuat dikuasai merek Jepang seperti Toyota, Honda, Nissan, Suzuki, dan Daihatsu. Data tersebut tercatat hingga 9 Agustus 2026.
BYD sebenarnya memasang target lebih tinggi. Perusahaan asal China tersebut membidik 10.000 reservasi Racco hingga akhir 2026. Dengan capaian 1.002 unit dalam dua pekan pertama, Racco sudah mulai menunjukkan respons awal yang cukup positif.
Yang menarik, sebagian besar konsumen justru memilih varian tertinggi. Sekitar 80 persen pesanan merupakan Racco 300 Premium. Sementara Racco 300 Plus menyumbang 14 persen dan varian termurah Racco 200 sebesar 6 persen.

Dari survei konsumen, sekitar 35,7 persen pembeli menggunakan Racco sebagai mobil tambahan. Persentase yang sama membeli Racco untuk menggantikan mobil lama, sedangkan 26,8 persen merupakan pembeli mobil pertama.
Racco sendiri memang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan pasar Jepang. Mobil ini memiliki panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, dan tinggi 1.800 mm dengan jarak sumbu roda 2.520 mm.
Ukuran tersebut membuatnya masuk dalam aturan kei car Jepang, yang memang mengutamakan dimensi kompak agar mudah digunakan di jalan perkotaan dan kawasan dengan ruang terbatas.

Menariknya, Racco menawarkan konfigurasi empat penumpang dengan kapasitas bagasi 280 liter. Radius putarnya juga hanya 4,8 meter, sehingga cocok untuk bermanuver di jalan sempit maupun parkir di area perkotaan.
Untuk sistem penggerak, seluruh varian menggunakan motor listrik tunggal di depan dengan tenaga maksimum 47 kW atau sekitar 63 hp dan torsi 160 Nm.
BYD menyediakan dua pilihan baterai LFP. Varian Racco 200 menggunakan baterai 22,4 kWh dengan jarak tempuh hingga 210 km berdasarkan WLTC.
Sementara Racco 300 Plus dan 300 Premium mendapatkan baterai lebih besar berkapasitas 35,84 kWh yang mampu membawa mobil menempuh hingga 320 km dalam sekali pengisian.
Angka 320 km tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Racco. BYD bahkan menyebutnya sebagai kei car listrik pertama di Jepang yang mampu menembus jarak tempuh 300 km.
Untuk pengisian daya, Racco 200 mendukung DC hingga 35,8 kW. Dua varian dengan baterai lebih besar mampu menerima daya hingga sekitar 49,7 kW dan menggunakan konektor CHAdeMO.
Fitur yang ditawarkan juga cukup lengkap untuk ukuran kei car. Racco sudah dibekali adaptive cruise control (ACC) dan autonomous emergency braking (AEB) sebagai fitur standar.
Di dalam kabin terdapat layar sentuh 10,1 inci, sistem audio hingga enam speaker, serta fitur seperti NFC phone key, battery pre-conditioning, heated seat dan heated steering wheel.
Racco juga memiliki fitur vehicle-to-load atau V2L, sehingga baterainya dapat digunakan untuk memasok listrik ke perangkat eksternal. Pada kondisi tertentu, fitur ini bisa menjadi nilai tambah untuk aktivitas luar ruang maupun kebutuhan darurat.
Harga BYD Racco di Jepang dimulai dari 2.145.000 yen untuk varian 200. Racco 300 Plus dibanderol 2.398.000 yen, sedangkan varian tertinggi 300 Premium mencapai 2.497.000 yen sebelum memperhitungkan subsidi.
Sebagai pembanding, Nissan Sakura yang menjadi salah satu rival utama Racco memiliki harga mulai sekitar 2,45 juta yen dan jarak tempuh sekitar 180 km. Racco 300 dengan jarak tempuh 320 km menawarkan angka yang cukup menarik di kelasnya.
Keberhasilan awal Racco juga penting bagi BYD karena pasar kei car Jepang bukan medan yang mudah bagi merek asing. Kendaraan jenis ini menyumbang hampir 40 persen penjualan mobil baru di Jepang, sementara pemain lokal masih sangat dominan.
Karena itu, 1.002 pesanan dalam dua pekan bukan sekadar angka penjualan bagi BYD. Racco menjadi salah satu ujian penting untuk melihat apakah produsen China mampu menembus segmen otomotif Jepang yang selama ini sangat dekat dengan merek lokal.
Jika tren pemesanan terus berlanjut, BYD Racco berpotensi menjadi salah satu model yang memperkuat posisi BYD di Jepang. Bukan dengan menghadirkan SUV besar atau sedan premium, tetapi lewat mobil mungil yang justru sangat sesuai dengan karakter pasar Jepang.


