NMAA News – Bagaimana kalau atap mobil tidak hanya berfungsi sebagai sunroof, tetapi juga bisa menghasilkan listrik? Gagasan tersebut kini semakin dekat dengan kenyataan setelah perusahaan kaca otomotif asal Tiongkok, Fuyao Group, mengembangkan teknologi sunroof dengan sel surya yang disebut telah selesai divalidasi dan siap masuk produksi massal.
Teknologi ini menarik karena sel surya tidak sekadar ditempel di bagian luar kaca. Fuyao mengembangkan sistem dengan melaminasi sel surya langsung ke dalam kaca otomotif. Dalam gambar yang dipublikasikan perusahaan, sel fotovoltaik terlihat menutupi hampir seluruh panel atap dan bahkan memanjang hingga sebagian area kaca belakang.
Bagi industri mobil listrik, teknologi seperti ini cukup menarik. Pasalnya, para produsen kendaraan listrik terus mencari cara untuk menambah jarak tempuh tanpa harus memperbesar kapasitas baterai.
Fuyao Group sendiri bukan pemain baru di dunia otomotif. Perusahaan tersebut merupakan salah satu produsen kaca otomotif terbesar di dunia dan memasok produk untuk sejumlah merek besar, termasuk Ford, General Motors, Subaru, Tesla dan Volkswagen Group. Posisi tersebut membuat teknologi solar roof Fuyao memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke kendaraan produksi dibandingkan sekadar menjadi proyek eksperimental.
Fasilitas produksi Fuyao di Yangxia dan Hefei saat ini memiliki kapasitas gabungan sekitar 3 juta set kaca otomotif per tahun. Kapasitas tersebut juga tengah ditingkatkan. Namun, belum diketahui berapa banyak solar roof yang akan diproduksi karena keputusan akhirnya tetap bergantung pada produsen mobil yang ingin menggunakan teknologi tersebut.

Dikaitkan dengan BYD
Menariknya, teknologi solar roof Fuyao sebelumnya dikaitkan dengan dua model BYD, yakni Han dan Tang.
Mengutip laporan PV Magazine, sejumlah laporan dari Tiongkok menyebut Fuyao bekerja sama dengan BYD untuk menawarkan sunroof dengan panel surya sebagai fitur opsional. Harganya disebut sekitar 8.000 yuan atau sekitar US$1.190.
Namun, sampai saat ini belum ada konfirmasi resmi dari BYD maupun Fuyao mengenai penggunaan teknologi tersebut pada BYD Han dan Tang. Jadi, informasi tersebut masih sebatas laporan dan belum bisa dianggap sebagai spesifikasi resmi kedua model.
Jika benar diterapkan, solar roof tersebut tetap tidak akan mengubah mobil listrik menjadi kendaraan yang bisa sepenuhnya mengandalkan matahari.
Luas panel pada kendaraan terbatas, sementara intensitas matahari juga berubah-ubah. Posisi kendaraan, cuaca, bayangan gedung atau pohon, hingga efisiensi sel surya ikut menentukan seberapa banyak listrik yang bisa dihasilkan.
Dengan kata lain, teknologi ini lebih masuk akal sebagai sumber energi tambahan, bukan pengganti charger.

Nissan Sudah Mengujinya
Fuyao juga bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan teknologi panel surya untuk kendaraan.
Nissan sebelumnya membuat Ariya khusus yang dilengkapi panel surya pada bagian atap, pintu bagasi dan kap mesin. Dalam kondisi langit cerah, Nissan menyebut sistem tersebut mampu menghasilkan energi yang cukup untuk menambah jarak tempuh hingga 14,3 mil atau sekitar 23 kilometer dalam satu hari.
Namun, hasilnya sangat bergantung pada lokasi dan kondisi matahari.
Dalam perhitungan sepanjang tahun, tambahan jarak tempuh rata-rata disebut sekitar 10,2 kilometer per hari di London, 18,9 kilometer di New Delhi, 21,2 kilometer di Dubai dan 17,6 kilometer di Barcelona.
Angka tersebut menunjukkan bahwa potensi solar roof memang berbeda-beda tergantung wilayah.
Menariknya, ketika kendaraan benar-benar digunakan untuk berkendara, hasilnya bisa jauh lebih kecil. Dalam pengujian Nissan selama perjalanan dua jam sejauh 80 kilometer, panel surya menghasilkan sekitar 0,5 kWh energi. Jumlah tersebut hanya cukup untuk menambah jarak tempuh sekitar 3 kilometer.
Meski terdengar kecil, kontribusinya tetap bisa berarti bagi pengguna dengan pola perjalanan tertentu.
Nissan memperkirakan pengemudi yang menempuh sekitar 6.000 kilometer per tahun dapat mengurangi kunjungan ke stasiun pengisian daya dari 23 kali menjadi hanya delapan kali jika menggunakan kendaraan dengan teknologi panel surya seperti yang mereka kembangkan.
Bukan Pengganti Charger
Teknologi ini pada akhirnya bukan tentang membuat mobil listrik yang tidak perlu dicas.
Solar roof lebih tepat dilihat sebagai cara untuk mendapatkan energi tambahan secara gratis ketika mobil berada di bawah sinar matahari. Untuk kendaraan yang sering parkir di ruang terbuka dalam waktu lama, setiap tambahan energi tentu bisa membantu.
Tantangannya adalah biaya produksi, efisiensi panel, bobot, daya tahan, keamanan serta seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan konsumen.
Jika Fuyao berhasil membawa teknologi ini ke produksi massal dan semakin banyak produsen mobil yang tertarik menggunakannya, bukan tidak mungkin sunroof pada mobil listrik masa depan memiliki fungsi yang jauh lebih menarik.
Bukan cuma membuat kabin terasa lebih lapang dan terang, tetapi juga ikut membantu mengisi baterai.
Jadi, jangan heran kalau suatu saat nanti istilah sunroof pada mobil listrik bukan lagi sekadar soal kaca di atas kepala penumpang. Atap mobil bisa saja berubah menjadi pembangkit listrik mini yang setiap hari bekerja selama matahari masih bersinar.


