NMAA News – PT Shell Indonesia kembali menggelar acara Shell ExpertConnect dengan topik “Penggunaan Biodiesel Sekarang dan Masa Depan” pada Selasa (13/7). Acara ini merupakan wadah kolaborasi dan forum diskusi tentang topik tren industri saat ini. Acara dibuka Andri Pratiwa, Direktur Pelumas Shell Indonesia dan dihadiri lebih dari 700 pelaku usaha.
Forum diskusi ini merupakan respon atas keinginan Pemerintah Indonesia yang mengamanatkan akan pengembangan dan penggunaan biodiesel sebagai upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari BAU (business as usual) pada 2030.
Hadir sebagai pembicara dalam Shell ExpertConnect kali ini Dr. Riesta Anggarani, Peneliti Bahan Bakar – LEMIGAS, Mohammad Rachman Hidayat, Product Apllication Specialist – Shell Global Commercial Technology, Fahmi Azhari Mukhlis, Deputy GM Quality Assurance Dept. Komatsu Indonesia, dan Devi Ari Suryadi, Service Manager Komatsu Marketing and Support Indonesia.
Biodiesel merupakan bahan bakar nabati sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Sifatnya yang degradable (mudah terurai) dengan emisi lebih rendah dibanding emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil, menjadikan penggunaan biodiesel meningkatkan kualitas lingkungan. Indonesia telah memanfaatkan biodiesel sejak 2008.

Hingga kini pemanfaatannya secara nasional terus dikembangkan, baik dari segi volume, campuran ataupun jumlah perusahaan yang terlibat dalam bidang ini. Sebagai perusahaan energi dunia, Shell senantiasa mendukung penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, hal ini sejalan dengan strategi global Shell ‘Powering Progress’.
“Untuk itu Shell berkomitmen untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya mendukung agenda Pemerintah Indonesia dalam penggunaan energi yang lebih bersih dan mempersiapkan ketahanan energi. Melalui forum Shell ExpertConnect ini kami berharap terjadi tukar informasi, pengetahuan dan praktek terbaik untuk mensukseskan implementasi program B30 dan persiapan implementasi mandatori B40,” jelas Andri Pratiwa.
Perkembangan teknologi mesin, upaya pengurangan emisi GRK, dan peningkatan ketahanan energi Indonesia telah mendorong Pemerintah Indonesia meningkatkan pemanfaatan biodiesel. Melihat keberhasilan implementasi program B20, Pemerintah menerapkan kebijakan mandatori B30 (campuran 30% biodiesel dan 70% bahan bakar minyak jenis solar) sejak Januari 2020.
Dalam pemaparannya, Riesta Anggarani menegaskan,“Pemerintah terus mendorong kesuksesan implementasi program B30, khususnya memastikan semua BBM jenis minyak solar yang ada di dalam negeri dicampur biodiesel 30%. Sementara program mandatori B40 hingga saat ini masih tahap pengkajian baik teknis maupun keekonomian, sehingga penerapannya diperkirakan tidak akan dalam waktu dekat.”
Shell sebagai produsen pelumas dunia berbagi pengetahuan mengenai produk pelumas yang dapat mendukung pemanfaatan bahan bakar B30. Mohammad Rachman Hidayat, Shell Asia Pacific Product App Specialist mengatakan, “Berdasarkan data dan pengalaman, Shell menganjurkan penggunaan oli mesin dengan standar API-CI4 yang memiliki kemampuan lebih baik mengatasi jelaga hasil pembakaran dari bahan bakar B30 atau lebih. Hal ini disebabkan API CI-4 memiliki soot handling lebih baik dibandingkan engine oil monograde. Bukti di lapangan menunjukkan, penggunaan pelumas mesin standar API-CI4 melindungi piston lebih sempurna.”

Implementasi mandatori B30 juga dilakukan produsen alat berat Komatsu. Menurut Fahmi Azhari Mukhlis, “Komatsu senantiasa mendukung kebijakan pemerintah termasuk implementasi B30. Untuk itu Komatsu mendesain ulang dan memproduksi setiap material dengan komponen sesuai (compatible) untuk penggunaan B30 di semua mesin, baik Convention Diesel Engine maupun CRI Diesel Engine.”
Rekan Fahmi dari Komatsu, Devi Ari Suryadi juga menegaskan tentang jaminan kualitas mesin. “Komatsu memberi jaminan kualitas mesin dengan bahan bakar biodiesel (B20 hingga B30) dengan standar SNI 7182. Untuk membantu customer dalam aplikasi B30, kami berikan ‘Service Tips’ dan menyarankan ke setiap customer untuk merujuk ke buku ‘Pedoman Penanganan dan Penyimpanan Biodiesel dan Campuran Biodiesel’ yang dikeluarkan Kementrian ESDM.”
Dalam sambutan penutupnya, Andri Pratiwa berharap kolaborasi antara pelaku usaha dan institusi terkait dapat terus berjalan dengan baik, dan semakin banyak forum serupa Shell ExpertConnect digelar sehingga memberi kesempatan ke para pelaku usaha memahami informasi teknis yang didukung data dalam membantu meningkatkan produktivitas. “Forum diskusi semacam ini dapat membangun kolaborasi, dan juga membantu pelaku usaha memahami kebijakan Pemerintah yang diwajibkan sehingga mempercepat dan mensukseskan implementasi program pemanfaatan biodiesel di Tanah Air.”


