Rifat Sungkar: Pahami Pelumas agar Tak Salah Kaprah Merawat Mobil

0
- Advertisement -

NMAA News – Dalam kesempatan jumpa dengan media secara virtual, Rabu (29/9/2021), pereli nasional yang juga Brand Ambassador Mitsubishi, Rifat Sungkar, berbagi tips dan pengalamannya terkait mengulik soal pelumas mesin. Banyak hal dan informasi tentang pelumas yang beredar di tingkat masyarakat ternyata kadang salah kaprah.

Salah satunya seperti suara mesin halus sebagai dampak perawatan yang benar, menurut Rifat, bisa iya dan bisa tidak. Karena dipengaruhi beberapa faktor. Kondisi halus tidaknya suara mesin, balik lagi pada karakter masing-masing mobil. Suara mesin di era sekarang bisa diredam dengan instalasi material kekedapan kabin.

“Kalau kita buka kap mesin, barulah kita pasti tahu karakternya. Suara mesin sangat berpengaruh dengan pemilihan pelumas. Mobil jaman dulu pelumasnya kental-kental dengan SAE 20/50, 10/40, bahkan ada 20/60. Semakin tinggi angkanya semakin kental olinya,” jelas Rifat.

Terkait halus tidaknya suara mesin adalah karakter masing-masing mobil. Desain mesin mobil jaman sekarang sangat kompak. Semisal, kalau dulu sering lebih kayak rumah karena gede. “Sekarang kayak apartemen, sempit gak ada halaman tapi tinggi. Dulu lebar sekarang tinggi. Karena mesinnya tinggi piston dan ruangan lain bisa diperbesar,” lanjut Rifat.

Perawatan secara benar memang ada pengaruh ke halus tidaknya suara mesin. Perawatan secara benar biasanya mencakup penentuan jenis oli yang dipakai, termasuk bahan bakar dan seberapa sering ganti oli dan filter oli.

Kondisi suara mesin halus, bertenaga, dan senyap merupakan tanda mesin dalam kondisi sempurna. Seiring berjalannya waktu, tingkat pemuaian logam akibat panas, sisa pembakaran dan tingkat gesekan, membuat kekuatan komponen pasti berkurang. Jadi wajar bila mesin tua berkurang tingkat kehalusan suara kerjanya.

Ditambahkan Rifat, dengan mesin mobil yang sekarang tingkat pembakarannya makin sempurna, disarankan untuk tidak salah pilih oli yang bisa berakibat fatal. “Salah pilih oli bikin boring piston baret. Akibatnya kompresi ilang dan suaranya berisik. Jadi pemilihan oli itu sangat berpengaruh,” imbuh Rifat.

Ketika disinggung soal penentu kinerja pelumas, disebutkan Rifat ada tiga komponen yang bisa mempengaruhi, yakni oksigen, debu, dan air. “Sebenarnya sebelum pelumas, kunci utama kelancaran mesin ada di saluran udara. Sama seperti saat kita bernapas. Kalau kita ditutup hidungnya maka kerja kita berat.”

Menurut Rifat, air juga paling berbahaya. Debu itu urusannya sama filter udara. Udara terlalu banyak debu, membuat kerja mesin makin berat, karena pasokan udara jadi terhambat di filter udara. Begitu juga oksigen kalau kurang, mesin ikut megap-megap karena pembakaran jadi gak sempurna.

Teorinya begini, mesin bekerja sangat berat saat di dataran tinggi. Rifat sendiri pernah mengalami hal tersebut saat berada 4.000 meter di atas ketinggian laut. Pasalnya, Rifat naik Lancer Evo yang mesinnya kencang sekali. Namun si mobil hanya bisa lari 200 kpj saja.

“Saya tanya kenapa begini (lamban), ternyata tim mekanik sampaikan kalau posisi altituted yang bikin pelan. Semakin tinggi suatu lokasi, maka semakin tipis kadar oksigen. Kebetulan mobil saya turbo, jadi sensitif sama oksigen. Mesin akan bekerja lebih berat di tempat ketinggian,” cerita Rifat.

Lanjut pada seberapa lama dan jauh toleransi penggantian oli, Rifat menyatakan tidak bisa terlalu lama, ketika bisa 10.000 kilometer biasanya tingkat fiskositas oli sudah berkurang. Kerekatan komponen struktur dan kelicinan jadi tidak ada.

Bila fracture oli mesin sudah sangat rusak, kalau kelebihan waktu olinya akan berkurang. Oli tertentu juga bisa menguap. Sampai berapa toleransi yang bisa dilakukan, menurut Rifat paling aman di 10 persen. Kalau disuruh balik setelah 10.000km, ya paling aman maksimum di 11.000km harus ganti. Setelah itu akan turun cepat kualitasnya.

Rifat mengingatkan, masa pakai berbagai pelumas sudah tertera lengkap di buku manual. Lalu di dalam garansi sendiri ada tenggang waktu. Sehingga kita harus pintar memilih antara waktu jatuh tempo dan jarak tempuh kilometer. Manfaatkan terbaik yang diberikan produsen.

Menyangkut adanya anggapan bahwa seiring bertambahnya usia mobil, tingkat SAE oli mesin bisa diganti ke yang lebih kental, Rifat menampik hal tersebut. Menurutnya, anggapan seperti itu tak lepas dari strategi marketing yang dikembangkan. Kebanyakan pemilihan oli kini lebih didasarkan pada iklan yang dijual, bukan pada spesifikasi mesin produk kendaraannya.

Pemilihan oli juga menyangkut aspek loyalitas. Apabila speknya 0/20, kalau saya ganti oli, justru maunya ganti yang lebih kecil. “Dari 20/50 naik ke 10/40 terus ke 0/30 itu oke. Kalau naik malah salah pemahamannya karena itu penurunan. Kita pakai 0/20 iitu artinya canggih banget mesinnya. Kalau olinya diganti pake yang lebih kental maka performanya idak akan naik. Itu akan menghambat performa,” tukas Rifat.

Mesin turbo dan non-turbo punya pola pikir sama, tapi memang sebagian oli mesin disalurkan ke pipa turbo untuk pelumasan. Makanya panas mesin untuk air buka theromastat 80 sama 280 derajat Celcius. Sementara untuk mesin, 280 ke 350 derajat Celsius. Titik didih oli bisa tiga kali lipat dari air.

Temperatur turbo bisa 800 derajat Celcius. Salah oli, bisa kebakar dan kegerus sebelum masuk ke turbo. Makanya oli mesin turbo ada note khusus turbo charging oil dan turbo charging. Khusus untuk oil engine flush, honestly gak bisa jawab. Karena itu bagian marketing. Karena hanya orang yang lebih percaya diri, menggunakan engine flush.

- Advertisement -