NMAA News – Minimnya pasokan chip semikonduktor dunia yang terjadi sejak pandemi Covid-19, disinyalir menjadi penyebab utama terhambatnya aktivitas produksi beberapa model Honda di Tanah Air. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya inden panjang dan cukup lama dari model andalan yang dipasarkan Honda di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Public Relations and Digital Manager PT. Honda Prospect Motor (HPM) Yulian Karfili, saat berdiskusi virtual dengan Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) pada Selasa (15/2/2022). “Problem ini hingga sekarang masih ‘membayangi’ aktivitas perakitan hingga distribusi unit kami ke konsumen,” ucap Arfi, sapaan akrabnya.
Gegara problem ini pula, pihaknya sempat melakukan studi potensi memproduksi dan mempelajari kemungkinan diproduksinya secara lokal komponen tersebut di Indonesia di masa depan. Tantangannya, hal ini membutuhkan kerja sama lintas industri.
“Ternyata, opsi pilihan ini juga tidak mudah. Lantaran butuh jalan panjang verifikasi atau persetujuan prinsipal, pilihan vendor pemasok bahan chip, hingga proses pengujiannya. Kami selalu berdiskusi juga dengan pemerintah dan asosiasi agar bisa diberikan dukungan,” ujar Arfi.

Krisis chip semikonduktorglobal tersebut, menurut Arfi, tak ayal membuat produksi maupun penjualan beberapa model Honda di Indonesia tahun kemarin dan awal tahun ini menjadi terganggu. Bahkan, tak hanya mobil produksi lokal terdampak, tapi juga mobil Honda yang diimpor utuh (Completely Built Up/CBU).
“Di Honda itu, semua model yang diproduksi di Indonesia dari Honda Brio sampai Honda CR-V sudah banyak menggunakan cip semikonduktor,” jelasnya. Persoalan terbesar bukan pada model CBU dengan permintaan relatif kecil, tapi pada model-model bikinan lokal dengan permintaan tertinggi, yang semuanya rakitan pabrik Honda Karawang.
“Salah satu terdampak besar itu Honda Brio. Jadi dibanding model lainnya, kami prioritaskan model Brio di line produksi pabrik Honda Karawang. Brio itu paling terdampak bukan karena menyematkan banyak chip. Melainkan permintaannya lebih besar, sehingga bertumpuk karena produksinya terbatas,” urai Arfi.
Kendati pihaknya sudah mengoptimalkan produksi Brio di dua lini produksinya dengan menyisihkan dan bergantian dengan model Honda lainnya, namun kendala minimnya pasokan chip tetap menjadi kendala utama proses produksi.
Selain Brio, model lain yang terdampak yakni model yang baru dilancukan akhir 2021, All New Honda BR-V. Tingginya antusias masyarakat terhadap model baru ini, juga tidak diiringi dengan stok model yang berlimpah.
Menurut Arfi, dampak krisis chip sangat terasa di All New BR-V lantaran model terbaru SUV Honda ini justru lebih banyak menggunakan chip semi konduktor. Penggunaan chip yang banyak ini antara lain untuk pemenuhan fitur teknologi keselamatan dan keamanannya pada Honda Sensing yang jauh lebih canggih.
Tak heran, menurut Arfi, bisa dilihat pada inden BR-V yang dibuka sejak September 2021 proses penantiannya cukup panjang hingga baru hadir di Januari 2022. “Untuk varian termahal yakni BR-V Prestige Honda Sensing, indennya bahkan mencapai tiga bulan,” beber Arfi.
Selain Brio, BR-V, dan HR-V, sampai saat ini Honda Indonesia telah memproduksi model lainnya yang juga telah dipasarkan di Indonesia, yakni Honda Mobilio, City Hatchback, dan CR-V. Sedangkan City sedan, Civic RS, Civic Type R, dan Accord masih diimpor utuh dari negara lain.

