NMAA News – Seiring mulai pulihnya roda ekonomi pasca pandemi Covid-19, sektor otomotif pun mulai bergeliat kembali. Beberapa Agen Pemegang Merek (APM) juga sudah bertubi-tubi meluncurkan produk terbarunya untuk lebih menggairahkan pasar.
Hasilnya, hampir di semua segmen pasar otomotif, persaingan terlihat makin ketat belakangan ini. Termasuk segmen premium yang dimasuki Mazda lewat agen pemegang mereknya, PT Eurokars Motor Indonesia (EMI).
Terlebih lagi, beberapa merek lama yang pernah vakum di Indonesia, juga sudah terlihat bergerak meramaikan pasar otomotif domestik. Seperti Subaru, MG, Chery, hingga Hyundai yang juga mulai fokus ke segmen premium.
Bahkan dalam launching SUV model terbarunya, yakni Forester baru-baru ini, Subaru menegaskan kalau pihaknya berkonsentrasi pada segmen premium yang siap berjibaku dengan merek lain yang sudah lama menghuni di segmen tersebut.

Menanggapi hal tersebut, saat berjumpa di Halal Bihalal Mazda Indonesia di Jakarta, Senin (30/6/2022), Ricky Thio selaku Managing Director PT EMI mengakui kalau pihaknya masih menganggap biasa dan santai menghadapi makin ketatnya persaingan tersebut.
Pasalnya, konsumen Indonesia semakin cerdas untuk menentukan atau memilih mobil mana yang paling sesuai dengan kebutuhan, budget, dan keinginannya masing-masing.
“Kalau boleh saya bilang, tidak masalah pasar semakin ramai. Ya, sah-sah saja kan kompetisi seperti itu. Setiap merek juga punya yang ditonjolkan. Seperti Mazda, kami percaya diri dengan aplikasi Kodo Design, Skyactive sense kita,” imbuh Ricky.
Dijelaskan Ricky, fokus Mazda saat ini berupaya mengkomunikasikan keunggulan produknya ke publik. Lalu, dilanjutkan upaya memberikan layanan dan menghadirkan produk terbaik mereka. Intinya memberi yang terbaik dalam produk dan layanan.
“Pada akhirnya kastemer adalah rajanya. Mereka yang memilih dan ingin membeli mobil apa yang paling sesuai buat personal mereka. Mau yang bertajuk ‘value for money’, ya silahkan saja,” lanjut dia.
Ricky juga mengembalikan pilihan mobil tersebut pada mekanisme pasar. Seperti membebaskan pilihan dan membandingkannya dengan produk lain yang berbanderol mirip. “Bagi kami, yang penting kastemer harus selalu dikomunikasikan soal kelebihan produk Mazda agar paham deatil. Jadi, mereka akhirnya akan memilih kemana,” tambahnya.
Dari performa penjualan, Ricky mengungkapkan pencapaian Mazda sepanjang kuartal pertama 2022 cukup memuaskan dan memenuhi ekspektasi. Kendati diakuinya saat awal tahun ini, kondisi pasar masih belum menentu karena ada beberapa halangan.
“Seperti pabrikan atau APM lain, selain pandemi Covid-19, kami juga terkendala krisis microchip yang akhirnya berdampak signifikan terhadap produksi kendaraan dan suplai ke negara yang membutuhkan seperti Indonesia.
“Target penjualan kita, bersyukur masih on the track. Masalah terbesar kita hanya soal suplai saja. Karena meski SPK-nya tinggi, namun minim suplainya. Ujung-ujungnya ya tidak bisa berjualan juga. Karena bakal memperpanjang inden,” imbuh Ricky.
Kendati demikian dirinya menilai, sejak awal tahun 2022 permintaan berbagai model Mazda di pasar dalam negeri masih tercatat sangat bagus. Varian SUV seperti CX-5, CX-3 masih mendominasi pasar Mazda di Tanah Air. Begitu pula model lainnya, menunjukkan grafik penjualan yang ikut naik.

