NMAA News – Pemerintah China dikabarnya tengah menyiapkan regulasi baru yang akan melarang penggunaan gagang pintu mobil model fully retractable mulai Juli 2027.
Dikutip dari Carnewschina, aturan ini digodok Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) melalui revisi standar nasional “Safety Technical Requirements for Automobile Door Handles” yang mulai dibahas sejak Mei 2025.
Larangan tersebut tidak berlaku untuk model semi-retractable atau desain tradisional, asalkan dilengkapi cadangan mekanis.
Tujuannya jelas, memastikan pintu tetap bisa dibuka meski terjadi kegagalan sistem listrik. Regulasi ini lahir dari meningkatnya kekhawatiran soal keselamatan, terutama setelah muncul berbagai kasus pintu mobil gagal dibuka dalam kondisi darurat.

Sejumlah insiden tercatat, mulai dari gagang pintu yang membeku saat musim dingin di Changchun hingga korsleting akibat hujan lebat di Guangdong.
Dalam beberapa kasus, penumpang bahkan terpaksa memecahkan kaca untuk menyelamatkan diri. Data uji tabrak menunjukkan efektivitas gagang elektrik hanya sekitar 67 persen, jauh di bawah gagang mekanis yang mencapai 98 persen.
Selain aspek keselamatan, masalah efisiensi juga dipersoalkan. Klaim produsen bahwa desain retractable mampu mengurangi koefisien drag hingga 0,03 Cd dianggap berlebihan.
Studi terbaru menunjukkan pengurangan drag sebenarnya hanya sekitar 0,005–0,01 Cd, angka yang relatif kecil. Di sisi lain, sistem retractable menambah bobot kendaraan sekitar 7–8 kilogram serta memicu biaya perawatan yang lebih tinggi.
Jika regulasi ini resmi diberlakukan, produsen otomotif, termasuk merek besar seperti Tesla, BYD, hingga NIO, harus menyesuaikan desain produk mereka.
Banyak pabrikan kini mulai melirik solusi semi-retractable yang tetap terlihat modern namun lebih aman.
Langkah China ini bisa menjadi rujukan global. Dengan pasar otomotif terbesar di dunia, keputusan regulasi di Negeri Tirai Bambu sering memberi efek domino ke tren industri otomotif internasional, termasuk di pasar Asia Tenggara.

