NMAA News – Nama Denza tengah menjadi sorotan di Indonesia setelah terlibat sengketa merek yang cukup panjang antara pabrikan asal China, BYD Company Limited, dengan perusahaan lokal. Kasus ini bermula ketika BYD ingin membawa brand mobil listrik premiumnya, Denza, ke pasar Indonesia pada 2025.
Namun, nama tersebut ternyata sudah lebih dulu didaftarkan oleh perusahaan Indonesia, yaitu PT Worcas Nusantara Abadi, sejak 2023.
Akibatnya, BYD menggugat penggunaan nama Denza ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Mereka mengklaim Denza merupakan merek global yang telah digunakan di banyak negara dan seharusnya menjadi hak mereka. Namun dalam proses hukum, fakta lain terungkap.
Kepemilikan merek Denza di Indonesia ternyata sudah dialihkan ke perusahaan lain, yakni PT Raden Reza Adi, sebelum gugatan diajukan.
Hal ini membuat gugatan BYD dianggap tidak tepat sasaran atau “error in persona”. Putusan pengadilan pun tidak berpihak pada BYD. Bahkan hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung, permohonan BYD resmi ditolak.
Dengan hasil tersebut, secara hukum nama Denza di Indonesia bukan berada di bawah kendali BYD. Ini membuat langkah brand tersebut di pasar Tanah Air menjadi cukup rumit, meski produknya sudah lebih dulu diperkenalkan.

Menariknya, setelah kalah dalam sengketa, BYD diketahui mulai mengajukan nama alternatif, yaitu “Danza”, ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Nama ini didaftarkan untuk berbagai kategori terkait kendaraan dan layanan otomotif.
Langkah ini mengindikasikan bahwa BYD masih mencari jalan untuk tetap menggunakan identitas yang mendekati “Denza” di Indonesia, tanpa harus melanggar hak merek yang sudah ada. Secara global, Denza sendiri merupakan brand mobil listrik premium yang awalnya merupakan hasil kolaborasi BYD dengan Mercedes-Benz sejak 2010, dan kini sepenuhnya dimiliki BYD.
Kasus ini jadi contoh nyata bahwa ekspansi brand otomotif global ke Indonesia tidak selalu mulus. Masalah administrasi seperti pendaftaran merek bisa menjadi hambatan serius, bahkan untuk pemain besar sekalipun. Ke depan, menarik untuk melihat apakah BYD akan tetap menggunakan nama baru seperti “Danza” atau mencari strategi lain untuk mempertahankan positioning brand premiumnya di Indonesia.

