Toyota Indonesia Dukung Industri Otomotif sebagai Penggerak Ekonomi Nasional

0
Suasana perakitan di pabrik TMMIN, foto: dok.TMMIN
- Advertisement -

NMAA News – Di tengah berbagai tantangan yang ada, industri otomotif Indonesia terus berperan sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional, terutama dalam penciptaan lapangan kerja.

Sebagai industri padat karya, Toyota Indonesia berkontribusi terhadap lebih dari 360.000 tenaga kerja di seluruh rantai nilai pasok industrinya, dari hulu hingga hilir.

Sejak berkembang pada era 1970-an, industri otomotif kini telah bertransformasi dari sebatas importir berubah menjadi produsen kendaraan utuh.

Industri ini juga turut memperdalam struktur industrinya dengan tingkat kandungan lokal yang kini melampaui 80% dan didukung ekosistem rantai pasok yang terbangun sejak 1977.

Pentingnya sinergi pemerintah dan industri menjaga daya saing ekonomi nasional tercermin dari peran sektor otomotif sebagai industri padat karya.

Sekaligus padat modal yang berkontribusi besar terhadap investasi, penyerapan tenaga kerja, serta penerimaan negara dan daerah.

Kontribusi tersebut juga terlihat dari penerimaan pajak pusat. Seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Juga, pajak daerah seperti Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang menjadi salah satu sumber penting Pendapatan Asli Daerah.

Sejalan itu, kinerja ekspor juga terus meningkat dengan total 3 juta unit kendaraan utuh ke lebih dari 100 negara, mencerminkan daya saing dan kepercayaan global atas produk serta Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.

Ekspor Toyota Indonesia Tembus Rekor Tertinggi selama Lima Tahun Belakangan ini, foto: dok Toyota Indonesia

Penguatan ekosistem rantai pasok turut menjadi kunci pendukung transformasi industri menuju elektrifikasi. Termasuk ekspor kendaraan hybrid seperti Toyota Innova Zenix HEV dan Yaris Cross HEV.

Kedua produk ini memiliki total volume gabungan melampaui 56.000 unit sampai kuartal 1 tahun 2026. Hal ini menegaskan kesiapan industri otomotif nasional dalam transisi ke mobilitas lebih berkelanjutan.

“Industri otomotif memiliki kontribusi besar atas ekspor dan penyerapan tenaga kerja nasional. Momentum ini perlu dijaga dan dikembangkan melalui kolaborasi erat industri dan pemerintah agar memberi dampak lebih luas bagi perekonomian Indonesia,” jelas Bob Azam, Wakil Presiden Direktur TMMIN.

Toyota Kijang Innova Zenith HEV rakitan lokal (PT TMMIN) saat muncul perdana di IIMS 2024

Saat ini, TMMIN bermitra lebih dari 240 pemasok tier 1 serta 520 pemasok tier 2 dan tier 3, yang berperan dalam memperkuat ekosistem industri, mendorong kemandirian, menekan ketergantungan impor, serta mendukung pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Dengan perjalanan lebih dari 55 tahun di Indonesia, ekosistem rantai pasok yang telah terbangun menjadi fondasi penting dalam menjaga daya saing di tengah dinamika industri global.

Veloz Hybrid EV Lintas Nusa – Finish Lintas Nusa, foto: TAM

Melalui sinergi yang semakin kuat antara pelaku industri dan dukungan kebijakan pemerintah, industri otomotif Indonesia diharapkan terus beradaptasi menghadapi dinamika global dan percepatan elektrifikasi.

Sekaligus menjaga daya saing di pasar regional maupun global, serta mempertahankan perannya sebagai pilar penting pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan.

- Advertisement -