Penjualan Honda di Indonesia Turun Tajam, Anjlok Lebih dari 40 Persen dalam Setahun

0
- Advertisement -

NMAA News – Nama Honda selama bertahun-tahun identik dengan salah satu merek mobil terlaris di Indonesia. Namun dalam setahun terakhir, performa penjualan pabrikan asal Jepang tersebut menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan penjualan Honda mengalami penurunan cukup tajam, baik dari sisi distribusi ke dealer maupun penjualan langsung ke konsumen.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), selama periode Januari hingga April 2026, Honda hanya mencatatkan penjualan wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer sebanyak 15.893 unit. Jumlah tersebut turun 37,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 25.336 unit.

Penurunan yang lebih dalam terjadi pada sisi retail sales atau penjualan dari dealer ke konsumen. Dalam empat bulan pertama tahun 2026, Honda membukukan 16.516 unit, turun 43,5 persen dibandingkan Januari-April 2025 yang mencapai 29.215 unit.

Tren pelemahan ini sebenarnya sudah terlihat sepanjang tahun 2025. Honda mencatat total penjualan retail sekitar 71.233 unit sepanjang tahun lalu, turun sekitar 30 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai lebih dari 103 ribu unit.

Situasi tersebut membuat posisi Honda di pasar otomotif nasional semakin tertekan. Kehadiran merek-merek baru, khususnya dari China, membuat persaingan menjadi jauh lebih sengit. Produsen seperti BYD, Chery, Jaecoo hingga berbagai merek elektrifikasi lainnya mulai menggerus pangsa pasar merek Jepang yang selama ini mendominasi.

Meski demikian, Honda masih memiliki senjata utama yang terus menopang penjualan, yakni Honda Brio. Model LCGC tersebut tetap menjadi kontributor terbesar bagi penjualan Honda di Indonesia dan masih menjadi salah satu mobil favorit masyarakat.

Di tengah tekanan pasar, Honda juga melakukan perubahan manajemen dengan menunjuk Masanao Kataoka sebagai Presiden Direktur PT Honda Prospect Motor menggantikan Shugo Watanabe pada Maret 2026. Pergantian pucuk pimpinan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperbaiki performa penjualan dan memperkuat daya saing Honda di Indonesia.

Tantangan Honda ke depan tidak hanya soal mempertahankan loyalitas pelanggan lama, tetapi juga menghadirkan produk yang lebih sesuai dengan perubahan tren pasar. Dengan persaingan yang semakin ketat dan konsumen yang semakin kritis terhadap teknologi serta value for money, Honda dituntut bergerak lebih agresif jika ingin kembali ke jalur pertumbuhan.

Jika tren saat ini berlanjut, tahun 2026 bisa menjadi salah satu periode paling berat bagi Honda di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Gimana menurut kalian?

- Advertisement -