NMAA News – Pasar mobil listrik Indonesia tidak lagi berada dalam fase perkenalan. Konsumen sudah membeli kendaraan listrik dalam jumlah puluhan ribu unit, persaingan harga semakin agresif, dan sejumlah produsen telah berani melakukan produksi lokal.
Namun, di tengah perubahan besar tersebut, PT Honda Prospect Motor justru memulai penjualan mobil listrik baterai pertamanya di Indonesia melalui langkah yang sangat terbatas. Honda Super-ONE hanya dialokasikan sebanyak 100 unit untuk pasar Indonesia sepanjang 2026. Angka itu menimbulkan pertanyaan: apakah Honda benar-benar siap memasuki pasar mobil listrik Indonesia atau sekadar ingin menguji respons konsumen?
Bukan 100 Unit Per Tahun
Hal pertama yang perlu diluruskan, Honda tidak menyatakan Super-ONE hanya akan dijual 100 unit setiap tahun.
Pernyataan resmi Honda menyebut Super-ONE “tersedia secara terbatas sebanyak 100 unit di tahun 2026”. Artinya, angka tersebut merupakan alokasi untuk tahun pertama penjualannya dan belum tentu berlaku pada tahun-tahun berikutnya. Harga resmi serta pemesanan baru akan diumumkan pada 5 Agustus 2026.
Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM, Yusak Billy, menjelaskan bahwa keterbatasan tersebut disebabkan tingginya permintaan di Jepang. Dalam dua bulan, pemesanan Super-ONE di negara asalnya diklaim telah mencapai 12.000 unit, sedangkan Indonesia hanya memperoleh alokasi 100 unit pada 2026.
Alasan keterbatasan pasokan mungkin dapat dipahami. Namun, jika dilihat dari perspektif pasar Indonesia, angka 100 unit tetap terlalu kecil untuk sebuah merek sebesar Honda.

Pasar EV Sudah Mencapai Lebih dari 100 Ribu Unit
Honda datang seolah terlambat ketika pasar mobil listrik Indonesia sudah tumbuh sangat cepat.
Berdasarkan data Gaikindo yang dikutip sejumlah media otomotif, penjualan wholesales mobil listrik baterai di Indonesia meningkat dari 43.188 unit pada 2024 menjadi sekitar 103.931 unit sepanjang 2025.
Dengan demikian, alokasi 100 unit Honda Super-ONE hanya setara sekitar 0,1 persen dari volume pasar BEV Indonesia pada tahun sebelumnya.
Perbandingannya bahkan terlihat semakin kontras jika disejajarkan dengan penjualan masing-masing model listrik sepanjang 2025:

*Alokasi Indonesia pada 2026, bukan penjualan aktual.
Data model 2025 tersebut bersumber dari rekap wholesales Gaikindo yang dipublikasikan.
Tentu membandingkan angka penjualan setahun penuh dengan alokasi produk baru tidak sepenuhnya setara. Namun, perbandingan tersebut tetap memperlihatkan skala permainan yang sedang berlangsung. Kompetitor tidak lagi berbicara tentang puluhan atau ratusan kendaraan, melainkan ribuan hingga puluhan ribu unit.
Kompetitor Sudah Berani Produksi Lokal
Persoalannya bukan hanya jumlah unit.
Wuling telah memproduksi Air ev, BinguoEV, dan Cloud EV di fasilitas Cikarang. Chery juga merakit J6 secara CKD di Indonesia. Chery menyebut J6 sebagai mobil listrik keduanya yang dirakit lokal.
Model-model tersebut tidak hanya hadir sebagai pajangan teknologi. Mereka dijual dalam volume ribuan unit, dibarengi investasi fasilitas produksi, pengembangan jaringan penjualan, ketersediaan suku cadang, dan program purnajual.
Sementara itu, Super-ONE untuk Indonesia masih hadir sebagai produk impor utuh dengan jumlah sangat terbatas. Strategi ini membuat mobil listrik pertama Honda tersebut lebih menyerupai produk koleksi atau halo product ketimbang kendaraan yang benar-benar dipersiapkan untuk mengejar volume pasar.
Padahal, Honda bukan pemain baru. Perusahaan ini telah memiliki pabrik, jaringan dealer luas, basis konsumen besar, dan sejarah panjang produksi lokal di Indonesia.
Karena itu, standar yang dikenakan kepada Honda sudah semestinya lebih tinggi dibandingkan merek pendatang baru.
Honda Datang Saat Penjualannya Sedang Tertekan
Kehadiran Super-ONE juga terjadi ketika performa penjualan Honda di Indonesia sedang menghadapi tekanan. Penjualan retail Honda pada 2025 dilaporkan mencapai 71.233 unit, turun sekitar 30 persen dibandingkan 103.023 unit pada 2024.
Penurunan Honda jauh lebih besar daripada kontraksi pasar otomotif nasional pada periode yang sama. Pada saat bersamaan, merek-merek yang agresif menawarkan kendaraan listrik justru berhasil menarik perhatian konsumen.
Bahkan pada April 2025, wholesales BYD mencapai 3.496 unit dan sempat melampaui Honda yang membukukan 3.000 unit pada bulan tersebut, menurut data Gaikindo.
Kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm.
Honda tidak hanya menghadapi perubahan teknologi, tetapi juga perubahan preferensi konsumen. Nama besar, reputasi mesin, dan loyalitas pemilik lama belum tentu cukup ketika pembeli mendapatkan mobil listrik dengan harga kompetitif, fitur lengkap, jarak tempuh panjang, serta garansi baterai yang semakin menarik.
Menarik, tetapi Belum Tentu Kompetitif
Secara produk, Honda Super-ONE memiliki daya tarik kuat.
Mobil ini dibangun menggunakan basis platform N-Series yang dimodifikasi. Baterainya berkapasitas 29,6 kWh dengan jarak tempuh hingga 274 kilometer berdasarkan WLTP. Tenaganya dapat mencapai sekitar 93 hp ketika Boost Mode diaktifkan. Super-ONE juga menawarkan simulasi perpindahan gigi dan suara mesin virtual untuk mempertahankan karakter fun to drive khas Honda.
Konsep tersebut membedakan Super-ONE dari kebanyakan mobil listrik perkotaan. Desain retro, dimensi ringkas, dan pengalaman berkendara emosional berpotensi menjadikannya produk yang disukai penggemar otomotif.
Namun, daya tarik emosional tetap harus berhadapan dengan kalkulasi rasional konsumen. Harga Super-ONE di Indonesia belum diumumkan. Di Jepang, mobil tersebut disebut berada pada kisaran Rp390 jutaan sebelum memperhitungkan struktur pajak dan biaya masuk ke Indonesia.
Apabila harga Indonesianya menembus atau mendekati Rp400 juta, Super-ONE akan menghadapi lawan yang menawarkan kabin lebih besar, jarak tempuh lebih jauh, dan fitur lebih lengkap. Dengan jangkauan 274 kilometer, mobil ini juga harus bersaing dengan EV perkotaan yang dipasarkan jauh lebih murah.
Artinya, Honda tidak hanya diuji dari sisi teknologi, tetapi juga keberanian menetapkan harga.
“Langkah Awal” yang Terlalu Kecil?
Honda menyebut Super-ONE sebagai langkah awal Honda Electric di Indonesia. Kalimat itu terdengar menjanjikan, tetapi pasar membutuhkan lebih dari sekadar simbol.
Alokasi 100 unit mungkin cukup untuk menciptakan kelangkaan, membangun eksklusivitas, dan menguji penerimaan konsumen. Namun, jumlah tersebut belum cukup untuk memperlihatkan komitmen Honda dalam perebutan pasar EV nasional.
Lebih tajam lagi, 100 unit bahkan lebih kecil dibandingkan penjualan bulanan sejumlah model listrik di Indonesia. Wuling Air ev, misalnya, pernah mencatat wholesales 419 unit hanya dalam satu bulan pada Mei 2025. Chery J6 pada bulan yang sama mencapai 580 unit, menurut Data Gaikindo.
Dengan kata lain, apa yang dialokasikan Honda selama 2026 dapat dijual kompetitornya hanya dalam hitungan beberapa hari atau minggu.
Honda Harus Segera Menunjukkan Peta Jalan
Super-ONE tetap layak diapresiasi sebagai mobil listrik Honda yang unik dan berkarakter. Namun, produk yang menarik belum otomatis menghasilkan strategi pasar yang kuat.
Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab Honda:
• Apakah alokasi Super-ONE akan ditambah apabila permintaan melampaui 100 unit?
• Kapan Honda mulai menawarkan BEV dengan volume lebih besar?
• Apakah ada rencana produksi lokal mobil listrik Honda?
• Bagaimana strategi harga agar produk Honda mampu bersaing dengan EV buatan lokal?
• Apakah Super-ONE hanya menjadi produk pembuka atau benar-benar awal dari ekspansi besar?
Honda pernah menjadi salah satu merek yang paling berpengaruh di Indonesia. Namun, dalam era elektrifikasi, keunggulan masa lalu tidak menjamin posisi pada masa depan.
Super-ONE mungkin menjadi langkah pertama yang menarik.
Tetapi saat kompetitor telah menjual puluhan ribu mobil listrik dan menanamkan investasi produksi lokal, alokasi hanya 100 unit belum terlihat sebagai sebuah serangan.
Untuk sementara, ini masih lebih menyerupai tes pasar bahkan bisa disebut sekadar mencelupkan ujung kaki ketika para pesaing sudah berenang jauh di tengah persaingan kendaraan listrik Indonesia.


