NMAA News – Pemberlakuan insentif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dinilai ampuh mengdorong penjualan mobil di masa pandemi Covid-19. Pencapaian tersebut dipertimbangkan Kementrian Perindustrian (Kemenperin) untuk mengajukan usul pemberlakuan PPNBM 0 persen diperpanjang.
Saat ini, terdapat 36 mobil yang sudah menerima insentif pajak PPNBM 0 persen dengan memenuhi syarat local purchase 60 persen. Nah, perpanjangan insentif permanen ini diajukan dengan syarat persentase local purchase atau kandungan dalam negeri meningkat mencapai 80 persen.
“Pemerintah sedang mempersiapkannya secara berhati-hati dengan memperhitungkan cost and benefit, serta menyusun time frame-nya,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Dikatakan Menperin, industri otomotif saat ini menjadi sektor yang berkontribusi terhadap PDB. Karenanya, dukungan kebijakan Pemerintah khusus sektor ini berdampak siginifikan terhadap pemulihan ekonomi nasional.
Hingga sekarang, tercatat 21 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat masing-masing mampu menembus kapasitas produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun. Target tersebut tentu mengharuskan penyerapan tenaga kerja 38 ribu orang.
Sejauh ini, total investasi mencapai Rp 140 triliun dan sudah memberikan penghidupan kepada 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut.
”Saya sangat bangga, bahwa saat ini produk otomotif kita telah berhasil diekspor ke lebih dari 80 negara. Selama Januari-Oktober 2021 tercatat sebanyak 235 ribu unit kendaraan CBU dengan nilai sebesar Rp43 triliun,”jelasnya
”(Kemudian) 79 ribu set CKD dengan nilai sebesar Rp1 triliun, dan 72 juta unit komponen dengan nilai sebesar Rp24 triliun,” sebut Menperin Agus.

Sebagai resolusi ke depan, Pemerintah menargetkan pada tahun 2025 kegiatan ekspor kendaraan CBU dapat mencapai 1 juta unit. Rencana ini bisa berjalan lancar jika semua pihak bekerjasama mendukung peningkatan efisiensi produksi. Seiring mempersiapkan mutu produk kompetitif di tengah geliat industri 4.0.
”Belajar dari pengalaman industri ini selama beberapa dekade, ada satu hal terpenting, yaitu komitmen dari prinsipal untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang berorientasi ekspor,” papar dia.


