Nilai-nilai Objektif Modifikasi Proper. Sejak National Modificaton & Aftermarket Association (NMAA) dibentuk dua tahun silam, kami sepakat untuk membawa kampanye modifikasi proper. Apa sih maksudnya? Selain secara harafiah berarti bergaya dengan tepat, sebenarnya juga ingin mengajak khalayak tuning Indonesia untuk memodifikasi mobil dengan knowledge.
Well, semangat ini sebenarnya sudah dimulai majalah MOTOR sejak puluhan tahun silam. Sayang majalah modifikasi pertama dan terbaik Tanah Air itu harus berhenti terbit. Namun, memang sudah seharusnya setiap modifikasi yang dijalankan mengutamakan pengetahuan yang saklek agar tak dibilang ricer. Kami di NMAA mengartikan gerakan ini sebagai bagian dari “naik kelas”nya industri modifikasi Indonesia, agar sejajar dengan negara-negara yang menjadi kiblat modifikasi seperti Jepang dan Amerika Serikat.
Hal tersebut kami buktikan lewat kegiatan Great Indonesia pada Osaka Automesse 2018 (10-12/2) kemarin di Osaka, Jepang. Tim NMAA yang merangkul modifikator, merek aftermarket, komunitas, dan pecinta modifikasi begitu diterima di salah satu perhelatan modifikasi terbesar di Jepang tersebut. Karya modifikasi Indonesia yang kami bawa dalam wujud Mercedes-Benz E250 W212 dinilai sudah memenuhi aspek modifikasi proper. Lantas, apa itu modifikasi proper?
Oke, dengan makin luasnya wawasan dalam era digital sekarang, maka referensi penting sekali untuk dicari sebanyak-banyaknya. Dalam modifikasi, hal tersebut membuat seorang modifikator kaya inspirasi dan jadi lebih tahu apa yang bakal ia lakukan. Lebih jauh, banyaknya referensi juga bakal membuat selera seseorang terhadap sesuatu jadi lebih baik.
Maka benar sekali kalau ada yang bilang modifikasi itu selera. Tapi pertanyaannya selera yang seperti apa? Yang ricer atau proper? Nah, kedua selera itu sebenarnya bisa dibedakan dari bagaimana pelakunya punya knowledge yang benar untuk jabaninnya. Do and don’t.
So, dalam kontes modifikasi, sudah seharusnya karya modifikasi dinilai secara objektif untuk mengetahui ke-proper-annya. Yaitu meliputi tren yang dibangun, serta workmanship yang baik. Poin pertama berkaitan dengan ide modifikasi kebaruan. Maksudnya modifikasi yang dilakukan adalah pemikiran orisinal, dan berpotensi menciptakan tren.
Poin pertama ini sebenarnya menuntut penggalian referensi dari pelaku modifikasi. Bisa datang dari mana saja; majalah, internet, bertukar-pikiran, atau bahkan pengalaman. Tinggal kita memilah dan memadukannya, lantas cari kemungkinan ide tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk modifikasi.
Wataru Kato, founder Liberty Walk Performance a.k.a LB Works mungkin bisa jadi contoh untuk poin ini. Inspirasinya membuat fender flares fenomenal ternyata datang dari tuning yang dijabani Nissan di era 1970-an. Saat itu, Nissan bikin mobil-mobil kecilnya berpenampilan wah, dengan pasang body kit, velg lebar, serta diceperkan.
Lantas Kato bikin hal serupa tapi ke supercar. Sebuah hal yang tabu, mengingat sebuah supercar dianggap sudah paling sempurna tampilannya. Faktanya, sekarang tren mobil kencang dan eksotik adalah memakai fender flares LB Works. Setuju?
Kato bisa besar seperti sekarang bukan cuma karena idenya, tapi juga kualitas pengerjaan yang baik. Nah, untuk yang ini berkaitan sama poin kedua soal workmanship. Yup, namanya dunia modifikasi yang berhubungan dengan teknis, kerapihan adalah nilai mutlak biar modifikasinya enak dilihat.
Lantas bagaimana patokan pengerjaan yang baik? Untuk jawab pertanyaan ini, hampir semua modifikator setuju, makin mendekati kualitas pengerjaan pabrikan mobil maka bisa dipastikan kalau pengerjaannya makin rapi. Maklum, kebanyakan di Indonesia, proses modifikasi masih dilakukan tenaga manusia/manual.
Tapi jangan terlalu diambil pusing. Asal body kit dipasang presisi dan mulus permukaannya, cat bodi tak belang, jahitan jok lurus, roda jauh dari gesrot, atau instalasi audio rigid, rasanya sudah bisa dibilang mission accomplished.
Soal workmanship yang rapi ini, Ryan Basseri, owner-nya Rywire, bengkel modifikasi asal California Amerika Serikat, sudah menerapkan ke Integra GT3 yang sukses menggondol pengakuan sebagai pemenang di Battle of The Builders di SEMA 2015 silam. Spesialisasi dia sebagai ahli kabel, membuat Integra oranye-nya wireless a.k.a nyaris tak kelihatan kabel-kabelnya. Mulai dari ruang mesin sampai instalasi perangkat elektornik di kabin, dipikirkan sedemikian rupa biar tak banyak ekspos kabel.Bahkan beyond dari pada yang bisa dijabanin pabrikan mobil sekalipun!
Nah, kalau mengikuti dua nilai objektif penilaian mobil di atas, seharusnya kita sudah bisa membangun modifikasi yang proper. Karena ini penilaian sama yang NMAA terapkan untuk menyeleksi mobil mana saja yang masuk ke event tahunan NMAA Top 30 kemarin, dan juga Indonesia Modification Expo (IMX) pada November 2018 mendatang. Go, proper modification!









