Harga Mobkas Mitsubishi Xpander Modifikasi Cenderung Stabil, Bahkan Bisa Lebih Tinggi

0
- Advertisement -

NMAA News – Sejak kehadiran perdananya di 2017, Mitsubishi Xpander sudah mampu menyedot perhatian konsumen segmen Low-MPV. Sosoknya yang terlihat anti-mainstream dibanding kompetitor sekelasnya, serta dilengkapi fitur modern dan keunggulannya yang komplit, membuat Xpander seperti berada di atas angin di kelasnya.

Selain disematkan berbagai fitur dan performa memadai, Xpander diakui memiliki desain sporty, mudah dimodifikasi, dan didandani secara personal sesuai selera pemiliknya. Tak heran, kalau Xpander berpenampilan dress-up banyak ditemui di kalangan komunitas, seperti di Xpander-Mitsubishi Owners Club atau yang akrab dikenal sebagai X-MOC.

Banyak fakta menunjukkan kalau harga seken atau mobkas Xpander, menurut para pemilik dan pedagang mobil bekas disebut masih cenderung memuaskan dan stabil. Depresiasi harga sekennya setelah pakai selama setahun hingga 3 tahun masih dalam batas wajar. Bahkan ada yang menyebutnya paling rendah di antara mobil MPV sekelasnya.

Besarnya antusiasme publik terhadap Xpander, hingga sempat rela antri berbulan-bulan, merupakan indikasi sejak awal kalau model ini banyak diminati. Setelah dimiliki, minat besar itupun ditunjukkan dengan berbagai personalisasi yang membuat si Xpander tampil beda di antara yang sejenis.

“Personalisasi inilah berujung pada berbagai sentuhan modifikasi yang dilakukan pemilik Xpander. Tujuan personalisasi ini selain hobi modifikasi, juga untuk memaksimalkan sekaligus memberi cita rasa berbeda, yang mencerminkan karakter pemilik Xpander-nya,” jelas Ovie Zainal, Koordinator Divisi Otomotif dan Modifikasi – Pengurus Nasional X-MOC Indonesia.

Ovie Zainal, bersama Xpander Exceed AT 2018 miliknya yang sudah menjalani proses modifikasi scara total

Namun terkait modifikasi, diakui Ovie, masih ada yang berpikiran kalau dengan langkah modifikasi yang dilakukan, bisa menjatuhkan harga kendaraan itu sendiri. “Masih ada yang ragu memulai padahal budget-nya ada. Ini karena konsep awalnya sudah salah, modifikasi bisa bikin jatuh harga mobil. Padahal banyak cara ketika mobil tersebut ingin dijual agar sesuai pasaran. Bahkan apa yang saya alami, mungkin bisa menjadi inspirasi. Bagaimana dengan kondisi komplit dimodif, harganya justru tinggi. Meski memang tidak lepas dari faktor ‘lucky’ juga,” tutur Ovie.

Bagi Ovie, memodifikasi sebuah kendaraan, memang paling utama terkait ‘passion’ seseorang terhadap kendaraannya, dan feeling si pemilik bagaimana dengan masa depan mobilnya tersebut. “Karena muncul berkonsep futuristis dari desain hingga fiturnya, saya yakin Xpander nantinya bakal menjadi masterpiece buat dimiliki, dipakai, dan dimodifikasi secara personal. Basic-nya asik didandani berbagai aliran modifikasi yang ada,” ujar Ovie yang pernah mendandani Xpander miliknya berbasis model Exceed A/T produksi Januari 2018.

Terkait hobi modifikasinya tersebut yang ditumpahkan pada Xpander, Ovie mengaku kalau dia memiliki cerita menarik. “Ini gak bakal saya lupakan. Bagaimana hasil sebuah totalitas modifikasi yang dilakukan akhirnya terbayar sesuai ekspektasi,” lanjut Ovie yang bercerita kalau dirinya terpaksa harus menjual Xpander Exceed modifikasinya karena ada kebutuhan lain yang tak terhindarkan.

Menurutnya, saat harus menjual Xpander modifnya, ia punya dua opsi. Pertama, menjual apa adanya dengan seluruh komponen modifikasi melekat di mobil. Opsi kedua, menjual dalam kondisi standar, dengan melepas kembali semua komponen modifikasi yang melekat di Xpander-nya. Tapi karena yakin apa yang telah diperbuatnya tersebut bakal diapresiasi, akhirnya Ovie memutuskan menjual dalam kondisi opsi pertama, apa adanya sesuai tampilannya terakhir.

“Pertama, repot kalau harus copotin lagi satu-persatu. Apalagi harga Xpander Exceed sebagai kasta ketiga di keluarga Xpander, harga sekennya tidak menyenangkan. Akhirnya saya putuskan menjualnya dalam kondisi semua komponen modifikasinya tidak saya preteli lagi. Apa adanya. Harapannya, bisa laku mahal sesuai barang modif yang disematkan,” cerita Ovie.

Di luar dugaan, ada teman dekatnya yang juga pemakai Xpander, yang sudah lama mengikuti perkembangan tahapan modif Xpander Ovie, sontak menawarnya saat tahu mau dijual. Padahal, rekannya Ovie ini juga sudah memiliki Xpander standar. Singkat cerita, Ovie dan rekannya ini akhirnya sepakat dengan harga Xpander modifnya tersebut di kisaran harga seken Xpander Ultimate.

“Sungguh luar biasa, harganya di luar ekspektasi saya. Dari sini saya belajar, bahwa ketika serius dalam sesuatu hal dan kita mendapat masalah, yakinlah, dari apa yang kita lakukan tersebut akan turut memberikan solusi. Tentunya bergantung pada ikhtiar yang kita lakukan juga. Ini buktinya. Xpander saya terjual cukup tinggi harganya dalam kondisi full modifikasi di tampilan eksterior, interior, dan sistem audionya. Dan terpenting, unsur ‘lucky’-nya juga kuat. Tapi itulah semua karena pertemanan kita yang luas,” ungkap Ovie.

Terkait sentuhan modifikasi yang bisa mendongkrak harga jual mobkas seken, turut dibenarkan oleh Handono Riseto, seorang pelaku bisnis jual-beli mobkas yang menggawangi outet mobkas Indira Mobilindo di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). “Saya beberapa kali mendapati mobil yang saya incar atau yang ditawarkan ke saya sudah menjalani tahap modifikasi. Sejauh tidak memodifikasi mesin, bodi, interior, dan pernik lainnya secara ekstrem, saya masih terima untuk dibeli,” papar Hando, sapaan akrabnya.

Menurutnya, dirinya memiliki kriteria khusus mengambil mobkas modifikasi yang mau dijual. “Yang penting kondisi mesin, bodi, interior, dan komponen kelistrikannya masih standarnya. Kalau hanya modifikasi penampilan luar semisal ganti pelek dan tambah bodykit yang ideal, masih masuk (dibeli). Begitu pula jika sudah memasang sistem audio yang natural dengan tidak menjejalkan perangkat audio secara berlebihan, juga masih layak diterima,” ujar Hando.

Handono Riseto, pemain jual-beli mobkas dengan outlet Indira Mobilindo di kawasan Serpong

Menurutnya, karena modifikasi sifatnya lebih personal, maka ia pun membatasi seperti di atas untuk semua komponen modifikasi yang melekat pada kendaraan yang akan dibeli untuk dijual. “Kan, tidak semua orang juga mau dengan gaya modifikasi yang sudah ada. Selera orang pasti beda. Makanya seperti pelek dan audio itu kan lebih umum sifatnya, jadi saya terima untuk dijual,” beber Hando.

Diakuinya, pihaknya tidak menutup kemungkinan menawarkan opsi bagi si pemilik kendaraan modifikasi yang mau dijual. “Apakah mau dijual dengan perangkat modifikasi yang tetap menempel, ataukah dipreteli dulu dibalikin standar dengan mencopoti semua perangkat modif yang ada. Saya punya tim khusus yang bisa mengerjakannya hingga balik ke tampilan standar,” imbuh Hando.

Khusus Xpander, sepanjang pengalamannya menjual kendaraan, Xpander punya angka depresiasi harga seken minim dibanding mobil lain sekelas. Dia tidak menampik kalau misalkan mendapat unit Xpander modifikasi yang mau dijual. “Kan angka penjualannya bergantung pada kondisi unit. Harga seken Xpander bisa beda hanya Rp 10-15 juta sama yang baru. Harga beda tipis ini karena antusiasme tinggi konsumen mencari Xpander seken. Sementara stok Xpander seken masih sulit di pasaran karena masih banyak orang pakai,” imbuh Hando.

Showroom Carsome di kawasan Pondok Indah

Terkait soal harga mobil seken, dalam diskusi virtual yang pernah digelar Carsome sekitar Januari 2021 lalu, General Manager Carsome Indonesia, Delly Nugraha, menjelaskan kalau depresiasi atau penurunan harga mobil bekas setiap tahunnya ditentukan banyak faktor. Menurut Delly, ada tiga hal yang mempengaruhi depresiasi harga mobil.

“Pertama, brand atau tipenya, apakah datang dari merek yang beken di sini. Kedua, terkait performa dan kinerja mobilnya, apakah irit konsumsi BBM, tenaga dan fiturnya lengkap, onderdilnya murah dan mudah didapat, dan sebagainya. Ketiga, dipengaruhi juga di area mana mobil ini dipakai atau dijual,” kata Delly, dalam diskusi virtual dengan media di Januari 2021.

Ditambahkan oleh Delly, jenis mobil populer dengan brand kuat seperti mobil MPV Jepang biasanya hanya akan mengalami depresiasi harga sekitar 10% per tahun. “Patokannya, dengan rata-rata diskon yang dikasih dealer mobil Jepang. Depresiasi harga itu akan berbeda kalau masuk ke merek non-Jepang, seperti merek mobil Amerika atau Eropa. Pasti akan berbeda,” tambah Delly.

Selain mengacu pada brand atau tipe terlaris, Delly mengatakan bahwa depresiasi harga mobil sangat bergantung dari mana asal wilayah mobil tersebut dan ke daerah mana akan dijual. “Karena pasar mobil bekas di Semarang, melihat stok mobil di Jakarta itu berbeda. Mereka melihat mobil Jakarta itu mobil capek, kena macet, bahkan terendam banjir. Jadi tiga faktor ini membuat perbedaan depresiasi mobil,” sambungnya lagi.

“Depresiasi bisa berbeda di masing-masing area, kendati mobil dari merek, jenis, tipe, dan tahun yang sama. Ini fakta yang ada lho. Kalau Anda datang ke Jogja, di sana Avanza 2010 masih banyak berkeliaran. Nah, depresiasinya nggak terlalu jauh, karena itu sangat diminati. Tapi kalau Anda ke Surabaya, mungkin yang banyak beredar justru mobil Honda sehingga depresiasinya tidak terlalu besar,” tukasnya.

Mirip Carsome, platform jual-beli mobkas online lainnya, CARRO juga menyatakan hal  hampir sama. Menurut Ricky Priambodo, Head of Appraiser CARRO, depresiasi mobkas yang sudah dimodifikasi mengacu pada tingkat modifikasi yang sudah dilakukan. “Rata-rata nilai depresiasinya rata-rata sekitar 5% dibanding depresiasi mobkas standar. Apabila semakin ekstrem modifikasinya, depresiasinya malah semakin tinggi persentasenya,” jelas Ricky.

Senada dengan Hando dari Indira Mobilindo, Ricky mengaku pihaknya agak sulit kalau ingin menjual mobil yang sudah dimodifikasi. Karena konsumen yang banyak awamnya, belum tentu juga menyukai sentuhan modifikasi yang dilakukan. Menjual mobil modif tidak semudah dibanding mobil standaran. Hal ini lantaran banyaknya pandangan atau kiblat modifikasi yang berbeda di tiap orang.

“Jadi kami membatasi terhadap mobkas yang sudah dimodifikasi dalam eskalasi minor ubahannya. Seperti hanya sebatas penggantian pelek dan sistem audio. Sedangkan seperti sistem suspensi juga masih harus standar,” terang Ricky. Menurutnya, kategori penggantian pelek dan sistem audio dinilainya masih dalam tahap wajar memodifikasi. Apalagi saat pembelian, juga masih mendapat barang-barang standarnya.

Dalam sebuah kesempatan bersua dengan media secara online di tahun pandemi 2020 lalu dan pada slot khusus membahas perihal modifikasi di ajang GIIAS 2019, Boediarto selaku Head of After Sales & CS Operation Group PT MMKSI mengungkapkan, kalau modifikasi yang dilakukan pada Xpander sah-sah saja sejauh tidak mengubah spesifikasi standar atau bawaan pabrikan.

“Semisal memodifikasi mesin hingga membongkarnya, mengubah desain bodi, memakai sistem kaki-kaki ekstrem, mengubah sistem kelistrikan yang berpotensi merugikan, hingga penerapan alat aksesori lainnya yang bisa mengurangi performa, kinerja, dan fungsi dari semua komponen di Xpander. Kalau hal ini dilakukan, maka garansi dari kami untuk mobil tersebut, langsung gugur,” jelas Boediarto.

Karenanya, ke audiens komunitas yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, Boediarto menyampaikan pentingnya memahami isi kesepakatan garansi dan manual book yang tersedia. “Gunanya agar modifikasi yang kita lakukan jangan sampai keluar atau menyimpang dari kaidah yang ditetapkan pada garansi. Karena bisa menyebabkan garansi jadi hangus,” ujar Boediarto.

Kendati demikian, dalam kesempatan tersebut, pihaknya memberi apresiasi atas maraknya langkah personalisasi yang dilakukan pemilik terhadap Xpander. Sentuhan modifikasi yang dilakukan dilihat sebagai bentuk kreativitas yang tidak terbatas dan disesuaikan selera masing-masing. “Yang terpenting lakukan semua itu dengan terukur, memahami estetika, tidak mengurangi fungsi, serta tidak membahayakan. Aspek safety dan kenyamanan harus nomor satu,” jelas Boediarto.

Dari semua hal di atas, faktor ‘lucky’ memang berpengaruh dalam menjual mobil yang sudah dimodifikasi, termasuk Mitsubishi Xpander. Baik Ovie, Hando, maupun Ricky sepakat, bahwa kalau mobil modifikasi mau dijual dengan harga tinggi dari harga normal, alangkah tepatnya bila dilepas ke orang yang berminat, yang mungkin pehobi otomotif yang seleranya sesuai terhadap mobil yang sudah dimodifikasi tersebut. Ovie dari X-MOC adalah salah satu yang sukses membuktikannya. Anda tertarik?

Foto: Dok. pribadi, OctoVB 

 

- Advertisement -