Seminar PEVS 2022: Adaptasi Elektrifikasi di Indonesia, Pemerintah Siapkan Berbagai Dukungan dan Keringanan Regulasi

0
- Advertisement -

NMAA News – Tidak hanya menampilkan berbagai model kendaraan listrik yang dipasarkan di Indonesia, ajang PERIKLINDO Electric Vehicle Show (PEVS) 2022 juga turut mendorong publik agar bisa menggali minat dan menumbuhkan pengetahuan lebih mendalam tentang kendaraan elektrrifikasi.

Salah satunya, dengan menggelar seminar di ajang PEVS 2022 pada Selasa (26/7/2022) yang diadakan oleh Periklindo bersama Dyandra Promosindo. Tema yang dipilih, “Siapkah Indonesia Beradaptasi dengan Kendaraan Listrik?’.

Tema ini sengaja diambil karena merupakan pemahaman mendasar untuk publik agar bisa memahami ihwal dan liku bagaimana posisi dan keberadaan serta prospek kendaraan listrik di Indonesia. Materi pembahasan dimulai dari berbagai regulasi, pemegang keputusan, hingga segmentasi produk dan konsumennya.

Seminar ini menghadirkan narasumber Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Manajemen Keselamatan Kementerian Perhubungan RI – Heri Prabowo, dan Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) – Dr. Eng. Budi Prawara.

Seminar diikuti puluhan peserta kalangan praktisi, hingga akademisi, mahasiswa perguruan tinggi dan siswa sekolah menengah kejuruan. Dalam materinya, Kasubdit Manajemen Keselamatan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Heri Prabowo memaparkan berbagai dukungan dan implementasi regulasi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Indonesia.

Menurutnya, berbagai regulasi Kementerian/Lembaga (K/L) telah tercipta untuk mendukung semua program yang terkait dengan percepatan penggunaan Kendaraan bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

“Permen ESDM nomor 13 tahun 2020, Permen Perindustrian nomor 27 tahun 2020, Permen Perindustrian nomor 28 tahun 2002, Permendagri nomor 56 tahun 2020, Permendagri nomor 1 tahun 2021, Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 7 tahun 2021 dan Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK-13/PMK.010/2022 itu semuanya merupakan regulasi K/L untuk mendukung kendaraan listrik menjadi kendaraan yang akan banyak digunakan masyarakat Indonesia,” jelas Heri.

Elders Garage lakukan modifikasi Vespa bermesin konvensional menjadi Vespa listrik

Mewakili Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, ia juga menjelaskan bahwa biaya uji tipe kendaraan bermotor yang dilakukan direktorat perhubungan darat untuk jenis kendaraan listrik, mengalami perbedaan biaya lebih murah dari kendaraan konvensional.

“Untuk sepeda motor dikenakan biaya uji tipe sepeda motor listrik Rp 4,5 juta, sedangkan tipe sepeda motor konvensional Rp9,5 juta. Biaya uji tipe mobil penumpang berbasis listrik Rp13,2 juta, sementara mobil penumpang konvensional Rp27,8 juta. Biaya uji tipe mobil bus listrik Rp13,2 juta, bandingkan biaya uji tipe bus konvensional Rp126,9 juta,” imbuh Heri.

Lebih lengkap, Heri menjelaskan bahwa secara umum tren pengajuan Sertifikat Registrasi Uji Tipe atau kartu lahir suatu kendaraan periode 2019 s/d 21 Juli 2022 menunjukkan tren peningkatan dan menandakan eksistensi kendaraan listrik di Indonesia kian diminati.

Ia menambahkan, bahwa sampai saat ini Kementerian Perhubungan telah menggunakan 30 unit kendaraan listrik sebagai kendaraan operasional Eselon 1 dan Eselon 2 sebagai bentuk dukungan program percepatan penggunaan KBLBB.

salah satu produk mobil pickup listrik karya PT Haka Motors

Materi seminar selanjutnya disampaikan Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Eng. Budi Prawara. Sebagai lembaga riset satu-satunya di Indonesia, Budi Prawara menyampaikan fokus riset BRIN atas kendaraan listrik di Indonesia.

Adapun fokus utama riset BRIN adalah pengembangan sistem otonom kendaraan listrik berbasis baterai. Sehingga bisa diaplikasikan berbagai keperluan, karena dilengkapi teknologi sistem deteksi, artificial intelligence, dan big data.

“Fokus pengembangan sistem otonom dan prototipe yang kami kembangkan adalah kendaraan single-seater dan rencananya akan dikembangkan ke tipe kendaraan lebih besar dengan kecepatan yang lebih tinggi atau fast and heavy vehicle, dan berkisar antara 9-20 penumpang,” jelas Budi.

Topik riset yang dilakukan BRIN berfokus pada: Sistem Deteksi Objek (menggunakan LIDAR, RADAR dan Kamera), Sistem Informasi dan Teknologi, C-V2X, Sensor kendaraan dan komputer, hingga interaksi manusia dengan kendaraan serta teknologi pengenal suara.

Selain itu, BRIN juga melakukan riset penguasaan teknologi kunci komponen kendaraan listrik, pembuatan mobil listrik, charging station, baterai, sistem manajemen, dan lain sebagainya. Budi menambahkan, berbagai hasil uji coba riset yang dilakukan BRIN dapat disimak melalui channel Youtube BRIN.

Motor listrik karya anak negeri berlabel Oyika Motor

Efek kemudahan regulasi dan dukungan pemerintah tersebut, kini mulai terlihat pada karya yang ditampilkan peserta PEVS 2022. Puluhan karya anak bangsa di dunia otomotif elektrik berhasil dipamerkan.

Puluhan karya anak bangsa tersebut, diantaranya adalah mobil balap listrik karya tim Yacaranda dari Universitas Gajah Mada (UGM), hingga bus listrik model purwarupa buatan tim peneliti Universitas Indonesia (UI).

Ada juga berbagai mobil listrik beragam perusahaan. Salah satunya PT Haka Motors, dan berbagai motor listrik seperti Davigo, Rakata, dan Gesits yang semuanya merupakan kendaraan listrik karya anak bangsa produksi dalam negeri.

 

- Advertisement -