NMAA News – Kebijakan Honda global yang akan beralih ke produksi mobil listrik sepenuhnya pada tahun 2040, suah masuk dalam agenda road map PT Honda Prospect Motor (HPM) sejak beberapa tahun lalu.
Namun khusus pelaksanaannya di Indonesia, HPM sendiri masih terus memantau dan mengikuti kebijakan yang ditentukan oleh Pemerintah, khususnya kebijakan penerapan elektrifikasi yang akan diterapkan di masyarakat.
Terutama yang terkait dengan kebijakan industri mobil listrik yang bisa dilakukan dalam negeri dengan pemakaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi dan perakitan atau produksi dilakukan dalam negeri.

Yusak Billy, selaku Business Innovation and Sales & Marketing Director PT HPM saat berbincang dengan media usai makan malam di acara MTD Honda WR-V (20/12/2022) di Seminyak, Bali menegaskan, perusahaan sudah memiliki visi beralih menjadi produsen kendaraan listrik sepenuhnya pada 2040.
Di Indonesia, visi ini akan dimulai dari tahun depan dengan memasarkan 2 mobil hybrid. Menurut Billy, nantinya saat produksi elektrifikasi berjalan, diharapkan bisa sinergi dan berbagi line produksi di pabrik HPM agar produksi versi mesin bensin dan hybrid berjalan paralel.
Sebelumnya diketahui, kalau Pabrik Honda di Karawang, Jawa Barat, sejak masuknya produksi Honda WR-V telah beroperasi hampir mencapai batas maksimal kapasitas pabrik sebesar 200 ribu unit untuk produksi mobil per tahun.
Saat ini, pabrik HPM Karawang telah memproduksi sejumlah model yang selain dipasarkan di dalam negeri, juga untuk kebutuhan ekspor. Yakni seperti Brio, Mobilio, WR-V, BR-V, HR-V, CR-V, dan City Hatchback.

Kondisi ini yang menjadi perhitungan matang bagi HPM menjalani elektrifikasi nantinya pada 2023. “Tentunya kami pikirkan masalah kapasitas produksi dan kemampuan pabrik saat ini. Sekarang ini maksimal produksi kan di 200 ribu unit per tahunnya. Butuh strategi tepat agar semua berjalan normal,” jelas Billy.
Untuk kebutuhan ekspor saja, menurut Billy, ada sekitar 30 persen dari kapasitas produksi yang difokuskan ke sana. Tentunya hal ini menjadi tugas utama HPM untuk bisa mengatur agar permintaan unit untuk pasokan dalam dan luar negeri bisa terpenuhi secara proporsional,” papar Billy.
Ditambahkannya, terkait road map HPM untuk elektrifikasi pastinya membuka peluang untuk investasi tambahan di masa mendatang pihaknya. “Kami tentunya ingin melihat dulu kebutuhan dan perluasan pasar yang terjadi dengan elektrifikasi ini. Jadi butuh kepastian dulu untuk penambahan investasi kemampuan produksi pabrik,” kilah Billy.

Saat ini, pabrik HPM di Karawang memang sudah dipersiapkan juga untuk kebutuhan produksi kendaraan ramah lingkungan di masa mendatang. “Menyangkut bagaimana investasinya atau pengembangan pabriknya, itu pasti akan kita umumkan nantinya,” ungkap Billy.
Yang pasti, menurut Billy, pastinya investasi ini akan diberikan sesuai permintaan dan infrastruktur kendaraan elektrifikasi. “Iya nanti pasti akan disesuaikan mengikuti demand dari masyarakat atau konsumen Indonesia. Kalau sudah saatnya ke elektrifikasi pastinya akan ada yang diinvestasikan di sana,” tambah Billy.
Kehadiran dua model e-HEV Honda di pameran GIIAS 2022 lalu memang mengisyaratkan kalau Honda mulai bersiap menghadirkannya di Tanah Air. “Tahun depan ada rencana dua model hybrid dan e: model lainnya hadir di Indonesia. Untuk tahun berikutnya akan terus berlangsung, termasuk produksi lokal tapi belum bisa di-disclose saat ini,” pungkas Billy.

