NMAA News – Korlantas Polri sudah memberlakukan tilang elektronik (E-TLE) di sejumlah kota di Indonesia. Saat ini, pelaksanaan tilang elektronik masih terus dikembangkan. Dari awalnya memasang titik-titik kamera statis dan patroli dari kamera mobil, sesuai dengan wilayah tertentu.
Untuk mengoptimalkan tindakan pelanggaran kepada pengguna jalan, Korlantas Polri akan mengandalkan drone atau pesawat tanpa awak. Tujuannya tentu agar dapat membantu pihak kepolisian memantau kemacetan lalu lintas.
Sebelum diterapkan, mungkin Korlantas dapat meniru beberapa negara di dunia yang sudah menerapkan drone untuk bertugas memantau lalu lintas. Simak ulasan singkatnya yang sudah dirangkum nmaa.co.id
China
Kepolisian di China sudah mengoperasikan drone pada 2018 lalu. Sejak adanya drone, petugas polisi dimudahkan melacak dan mencatat setidaknya ribuan pelanggar lalu lintas.
Cara kerja pesawat tanpa awak (nirawak.red) ini dioperasikan langsung oleh 10 anggota polisi yang bertindak sebagai operator. Drone di China dapat terbang sejauh 50 meter dari target dengan daya baterai yang sanggup bertahan sampai 30 menit, dan dilengkapi pengeras suara.

Saat sedang memantau, drone dapat mengidentifikasi berbagai jenis pelanggaran seperti mobil tanpa pelat resmi, maupun pengemudi motor menerobos lampu merah.
Tetapi, seperti dikutip dari berbagai sumber, drone di China justru banyak disorot oleh masyarakat. Tak lain karena dikhawatirkan ada pelanggaran privasi dalam pengaturan lalu lintas. Terlebih lagi, warga negara China terkadang merasa khawatir jika keselamatan dan hak pribadi mereka dilanggar oleh drone.
Spanyol
Selain China, Spanyol juga sudah menggunakan drone untuk memantau pelanggaran di jalan raya. Setidaknya, puluhan drone diterbangkan langsung oleh Departemen Kepolisian Spanyol untuk penyelidikan resmi terhadap undang-undang lalu lintas yang berlaku.
Cara ini sudah menempuh proses pengujian terlebih dulu pada 2018 lalu. Tidak jauh berbeda dengan China, saat itu drone dianggap efektif memantau dan menindak pelanggaran lalu lintas.
Dari spesifikasi unitnya, drone di Spanyol sudah dibekali kamera resolusi tinggi. Fungsinya, untuk merekam dalam format video dan memotret pelanggaran di sejumlah ruas jalan.

Dari spesifikasi, drone di Spanyol saat itu dapat terbang hingga ketinggian 120 meter dan memiliki radius jelajah sekira 2 kilometer.
Tiap satu unit drone, mendapat jatah 40 menit sebelum kembali ke titik berangkat untuk mengganti baterai. Ketika pengujian dilangsungkan, kepolisian mencatat sebanyak puluhan ribu pelanggar lalu lintas disorot menggunakan uni drone.
Misalnya tidak menggunakan sabuk pengaman, menggunakan ponsel, atau pelanggaran lainnya.


