Adu Harga Mobil Listrik di Bangkok, Mana Paling Diminati?

0
- Advertisement -

NMAA News – Kendaraan listrik menjadi perhatian utama di pameran Bangkok International Motor Show (BIMS) 2023 yang akan berlangsung sampai 2 April mendatang di Bangkok, Thailand.

Meski Thailand pun belum sepenuhnya melakukan transisi penggunaan kendaraan konvensional ke listrik secara masif. Akan tetapi, tiap pabrikan kendaraan sudah saling beradu strategi merebut hati calon konsumen dengan beragam cara.

Mengacu pada kondisi pasar kendaraan di Thailand, periode Februari lalu penjualan mobil baru di Thailand turun selama empat bulan berturut-turut. Menurut data dari Federasi Industri Thailand (FTI) tren tersebut dengan penurunan tajam berlaku dalam penjualan truk, kekurangan semikonduktor, dan kontraksi ekonomi kuartal IV.

Selain itu, faktor utang rumah tangga Thailand mencapai 86 persen dari produk domestik bruto, lebih tinggi dari negara-negara lain di kawasan ASEAN.

Padahal, sejauh ini Thailand terbilang sukses menerapkan aturan insentif untuk menggairahkan penjualan kendaraan khususnya EV.

Pemerintah Thailand memulai program subsidi kendaraan listrik pada September 2022 sebesar 70.000-150.000 baht atau setara Rp30 juta – Rp65 juta per unit. Pemerintah juga memberikan insentif pajak untuk EV termasuk pengurangan cukai, pajak jalan, dan pajak impor.

Program tersebut sukses mengerek volume penjualan EV di Thailand selama Januari-Oktober 2022 dari awalnya 1.721 unit di periode yang sama tahun 2021, saat ini jumlahnya meningkat jadi 7.552 unit.

Lantas, bagaimana persiapan pabrikan mobil di Thailand?

Foto: BYD/ Autoindustriya

Dalam gelaran pameran BIMS 2023, merek kendaraan listrik asal China BYD merilis EV berjenis hatcback, BYD Dolphin. Mobil bergaya modern untuk menyasar segmen milenial tersebut ditawarkan dengan harga 799.999 bath atau setara Rp 356 juta dalam kurs rupiah.

Jika diamati, besaran  harga BYD Dolphin justru dijual lebih rendah dari rata-rata EV yang sudah dijual di Thailand. Tetapi, harga ini belum termasuk subsidi kendaraan listrik yang berlaku.

Pasalnya, pemerintah Thailand masih akan melakukan negosiasi tentang subsidi kendaraan listrik. Langkah ini sesuai dengan besaran subsidi hingga 150.000 bath, setara Rp 66 juta, bagi produsen yang menjamin produksi sesuai jumlah unit kendaraan di Thailand.

Foto: Hyundai

Sementara itu, Hyundai Motor diprediksi mengirim dua unit seri Ioniq dan MPV Hyundai Stargazer bar ke Thailand. Untuk membangun persaingan sehat antara pabrikan kendaraan, Hyundai berencana mendirikan Hyundai Mobility yang menangani pemasaran, penjualan, dan distribusi oleh perusahaan induk.

Dari pencapaiannya, tahun lalu Hyundai berhasil menjual 4.958 unit mobil di Thailand. Meski penjualan Hyundai di Thailand tumbuh 64 persen setiap tahun, angka ini masih kalah dengan angka penjualan di Indonesia yang tembus 30.193 unit.

Kemudian, Toyota mengklaim sudah menjual sebanyak 159.696 unit kendaraan listrik di Thailand. Data ini disebutkan langsung oleh Presiden Toyota Thailand Noriaki Yamashita kepada awak media.

Sayangnya, tidak dijelaskan model kendaraan listrik apa yang dijual banyak itu. Terlebih, Toyota akan segera mengenalkan mobil hybrid terbaru mereka dalam waktu dekat.

- Advertisement -