Ingatkah istilah Good Old Days? Kutipan ini dapat diartikan kalau masa lalu lebih indah dengan beragam dinamikanya. Sehingga sejumlah orang yang bahkan hidup di berbagai era merasa kalau jalan terbaik hanya ditempuh dengan bernostalgia. Cara ini juga ampuh membuat seseorang berbahagia.

Bagi sebagian petrolhead penggemar mobil klasik kisaran tahun 1960 sampai 1980 langkah restorasi merupakan opsi utama membawa “masa kejayaan” mobil puluhan tahun silam. Yup, bisa dikatakan juga nostalgia ,merupakan medium agar tetap terkoneksi dengan kemajuan tren dan teknologi saat ini. Caranya dengan langkah restorasi total. Dibuat seidentik mungkin dengan kondisi awal mobil dirilis. Lebih tepatnya mempertahankan karakter asli mobil tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan aktivitas harian di Workshop Retouch Pro Autoworks. Beberapa mobil lawas di garasi workshop kebanyakan berusia setengah abad bersolek kembali. Dari mulai generasi Mercedes Benz S Class atau kerap dijuluki Mercy Kebo, 300 SL Gullwing, sampai tipe 220 (W187).

Foto: NMAA

Deretan mobil yang diproduksi pabrikan asal Jerman Mercedes Benz sedang menempuh langkah reinkarnasi di zaman sekarang ini. Seperti menjelajah waktu, mereka dibekali teknologi pada zamannya! Bedanya, komponen mobil kisaran dekade 1970 sampai 1990 tampak menarik dengan menggunakan spare parts aslinya yang notabene serba mekanis. Terlebih Mercedes Benz sendiri merupakan  pelopor pembuat mobil pertama di dunia.

Dekade 1970 Mercedes Benz Sudah Dilengkapi Airsus| Foto: NMAA

“ Pabrikan manufaktur kendaraan di Jerman saat itu memang punya idealisme saat mengkonsep mobil. Tidak hanya memikirkan kendaraan untuk bermobilitas. Juga mempertimbangkan aspek keselamatan, kenyamanan dan sisi fungsional,” buka Artura selaku Punggawa Retouch Pro Autowerkz kepada NMAA Media.

Kompressor airsus generasi Mercy jadul langsung menyatu dengan mesin | Foto: NMAA

Meski baru didirikan pada 2019, workshop asal Bandung ini sudah membuat kejutan di IMX 2020 lalu. Sebuah Mercedes Benz 280 SEL bermesin W108 tampil perlente dengan sejumlah part kombinasi. Dari mulai velg 3 pieces, kerapihan interior, mesin, body works sampai menggunakan sistem suspensi udara (Airsus) 4 titik. Mesin berkapasitas 2.8 liter ini mampu menghasilkan daya hingga 140 dk dan populasinya terbilang langka di Indonesia.

Foto: IMX 2020

Namun, car enthusiast yang akrab disapa Om Artur ini tidak ingin penggemar modifikasi otomotif di luaran sana menganggap Retouch Pro hanya piawai menangani mobil asal pabrikan Jerman saja. Buktinya, ada beberapa mobil asal pabrikan negara lainnya masih menunggu tahap restorasi agar tampilannya segar kembali.

Menurutnya restorasi memiliki istilah dan makna berbeda dari setiap orang. Hal ini berkenaan dengan referensi yang didapat, gaya modifikasi yang disukai atau cara membangun mobil. Karena sifatnya relatif, tiap builder juga biasanya hanya mahir memodifikasi mobil pabrikan tertentu.

Foto: NMAA

“Perbedaan di lapangan sangat berbeda. Memang, restorasi singkatnya mobil lawas andalkan part orisinil, tampilan seperti baru dan lain sebagainya. Bagi saya ini sifatnya wajib. Kalau sudah mentok baru diakali, pakai spare part mobil lain misalnya. Jangan keliru dengan pendapat seperti itu, faktanya merias mobil dari segi tampilan atau kosmetik sangat mudah. Tapi kalau tanpa basic hasilnya jadi tidak maksimal,” terangnya.

Di tengah beragam persepsi publik otomotif tentang restorasi tampaknya sedikit berbeda dengan ideom Om Artur. Dari mulai momen saat pertama menggarap Mercy jadul di pekarangan rumah orangtua, didatangi beberapa kolektor mobil klasik, sampai dipercaya menjadi supervisi project modifikasi atau restorasi. Sederet momen ini jadi modal dalam membangun sebuah referensi dan jam terbang menggeluti bidang restorasi pada awal tahun 2000 hingga sekarang.

Tapi ia punya alasan tersendiri saat meilirik generasi Sonderklasse alias Mercedes Benz S-Class. Menurut Om Artur, khusus generasi ini nyaman dipakai daily use, baik dari sisi handling, mesin bandel, material kokoh dan model klimisnya masih jadi sorotan hingga sekarang.

Konsep Minimal Correction ditekankan untuk hasil maksimal. Semisal menggarap body works dari mulai body lining hingga kelir ulang | Foto: NMAA

Tak heran kalau Om Artur lebih senang mengembalikan tampilan dan teknologi inovatif Mercy Kebo di era sekarang dengan gempuran electrical. Tekadnya cukup simpel, bagaimana caranya bisa membawa tampilannya persis seperti baru keluar pabrik.

“Kalau ngoprek gimana caranya ngebetulin mobil  seperti semula. Segala sektor diperhatikan, teamwork yang baik, presisi, dan ketelitian selama proses restorasi. “every detail have a pride”. Untuk membuktikan kalau hasilnya maksimal juga sangat mudah. Kalau kita ngaca di mobil, kita masih kenal wajah kita sendiri,” kekehnya.

Foto: NMAA

Proses restorasi yang ditempuh tidak jauh berbeda pada umumnya. Dari mulai bongkar semua part mobil, periksa undercarriage, kerok cat, dan body repair. Tahap awal ini terbilang rumit dan kerap mengalami perubahan karena faktor suhu, pemuaian dan pengecekan akhir. Dengan konsep minimal correction, body lining mobil hingga keserasian bagian eksterior secara total diperbaiki. Faktor kerusakan body work pun berbeda.

“Sasis juga enggak kalah penting karena itu dasar. Terlebih kerusakan pas mobil masuk workshop berbeda. Ada yang bodinya melintir, miring,atau  bekas benerin orang. Kondisi ini menarik buat saya, karena analisa juga bisa berbeda,” paparnya.

Foto: Ist @retouchproautowerkz

Usai body works, sektor lainnya juga seperti mengganti panel sampai ke kolong mobil , pengetokan bodi agar simetris dan sesuai kontur bawaan. Setelahnya, masuk ke proses kelir ulang sampai pernis. Tak kalah seru, sektor dapur pacu juga disegarkan lagi dengan overhaul agar kondisi sektor perkabelan tetap tokcer.

Foto: NMAA

“Kalau proses restorasi pasti sama. Tapi balik lagi ke kondisi sekarang, saat kemajuan teknologi sifatnya tambahan, padahal basic engine tetep sama. Resikonya disini, problem dan lain sebagainya ada di SDM. Apa sudah kompeten, menguasai bidang tertentu juga punya idealis. Perbedaan tren dulu dan konvensional juga sekedar konsep mechanical dan electrical saja. Keduanya  bisa saling melengkapi,” ujar Om Artur.

Foto: NMAA

Kerumitan saat proses restorasi terbilang relatif, selain memantau proses pengerjaan juga sekaligus mengumpulkan spare parts orisinil atau OEM. Dengan segala resiko saat proses sudah berjalan. Terpenting, mobil sudah memuat fungsi kenyamanan, fungsional dan estetika. Terlebih, menegaskan kesan “segar” di mobil lawas dengan kreativitas dan ide inovatif. Hasilnya, mobil tampak seperti keluar pabrik pada 1970 silam!

“Mencari spare part itu relatif enggak bisa dibilang sulit atau mudah. Contohnya, kalau orang sudah terbiasa megang satu brand mobil Eropa karena passionnya memang disitu, tinggal masalah waktu saja. Sama kayak beli mobil dari luar, mobil ada murah itungan masuk ya diambil juga,” bebernya.

Foto: NMAA

Memasuki tren restorasi saat ini Om Artur menyetujui kalau di tahun-tahun mendatang mobil klasik merupakan sebuah aset yang mesti dilestarikan dan dijaga. “Sekarang tren nya mulai membangun mobil classic karena mobil baru kebanyakan sudah terlalu tinggi harganya , dan mobil classic kalo sudah bagus menjadi nilai lebih sehingga menjadi investasi selain hobi,” tambahnya

“Karena dengan modifikasi bergaya apapun pasti harus mengeluarkan effort yang besar. Kecuali kalau masih beranggapan semua mobil bisa menerapkan gaya modifikasi jenis apapun tanpa memikirkan hasilnya.” Tambah Om Artur.

Hasil Restorasi 

Perkembangan tren restorasi saat ini dirasakan juga oleh Chris Zibekk selaku punggawa ZCD Distromotive dan salah seorang Konseptor Retouch Pro Autowerkz. Tren modifikasi dan restorasi saat ini mulai tumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran para modifikator terhadap aliran modifikasi lebih spesifik.

Akan tetapi, kembali lagi ke skill SDM yang mumpuni agar dapat menggarap mobil lebih rapi dan proporsional. Dalam membangun mobil restorasi yang proper sejumlah poin krusial mesti diperhatikan.

Foto: NMAA

“Beberapa kota di Indonesia sebenarnya punya gaya modifikasi sendiri. Jadi punya standarnya sendiri sesuai gaya tren yang berkembang. Tapi alangkah baiknya kalau hasil modifikasi mereka itu mengutamakan kenyamanan di jalan raya selain menarik secara estetika,”papar punggawa ZCD yang akrab disapa Ko’ Zibekk.

Ia menambahkan, tren di Indonesia mengikuti apa yang sedang “hype” di luar negeri. Padahal jika digali lebih dalam dapat membuka potensi baru. Karenanya, penting untuk berkolaborasi dari para pegiat otomotif lokal antar generasi sehingga generasi muda bisa mendapat arahan dari generasi pendahulu.

Foto: NMAA

“Kenali dulu selera modifikasi yang sangat beragam ini menjadi kesatuan di tengah perbedaan. Utamanya kembali lagi ke basic, fungsinya dan safety. Nantinya mungkin bisa harmonisasi bentuk dan warna,” tutupnya.

Langkah tersebut ditempuh guna membangun ekosistem modifikasi otomotif yang sehat meliputi kualitas bengkel, hasil modifikasi, dan platform pameran atau kontes.