Uni Eropa Siapkan Standar Emisi Euro 7, Bagaimana Nasib Mesin Bensin dan Hybrid?

0
Foto: Pixabay
- Advertisement -

NMAA News – Sektor transportasi kian tumbuh dan berkembang seiring seiring peningkatan ekonomi nasional maupun global. Apalagi di tengah tren menuju elektrifikasi kendaraan. Tidak menutup kemungkinan jika populasi mobil berbahan bakar fosil perlahan dikurangi di beberapa negara.

Mengutip Carscoops, peraturan Euro 7 akan mulai berlaku pada 2025. Menurut Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), proposal dari European Commission’s Consortium for Ultra Low Vehicle Emissions (Clove) dapat menjegal kendaraan bermesin bakar, termasuk kendaraan hybrid.

Artinya, standar emisi Euro 7 bisa membunuh mobil bermesin bensin atau diesel paling cepat pada 2026. Berdasarkan tinjauan dari Pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor berakibat meningkatnya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi. Dampaknya, gas buang (emisi) yang mengandung polutan juga naik dan mempertinggi kadar pencemaran udara.

“ACEA percaya bahwa skenario batas emisi yang disajikan oleh Clove, ditambah dengan kondisi pengujian baru yang disarankan, pada praktiknya akan menghasilkan situasi yang sangat mirip dengan larangan kendaraan yang ditenagai oleh mesin pembakaran internal, termasuk kendaraan hybrid,” kata asosiasi produsen mobil tersebut.

Foto: carauto

Proposal Euro 7 dapat memaksa kendaraan bermesin bensin untuk dilengkapi dengan katalis listrik yang dipanaskan, dua katalis tiga arah konvensional 1.0 liter, filter partikulat 2.0 liter, dan katalis ammonia slip.

Selain itu, mereka akan mengusulkan kendaraan bermesin bakar dilengkapi dengan sistem diagnostik on-board yang akan memantau mesin supaya dapat menyesuaikan aturan emisi yang berlaku.

“Solusi teknis yang dirancang untuk memenuhi, atau dimaksudkan untuk memenuhi, nilai batas yang sangat rendah yang diusulkan untuk NOx, dikombinasikan dengan batasan NO2 dan NH3 [amonia] yang sangat ketat, akan sangat mahal dan sangat rumit,” tambah ACEA.

ACEA percaya bahwa perangkat seperti itu hampir tidak mungkin digunakan di mobil kecil dan sulit untuk diintegrasikan ke dalam arsitektur kendaraan saat ini, dan akan berakibat pada mahalnya unit kendaraan bermesin bakar.

“Untuk mendorong persyaratan teknologi ke titik ini akan sangat membatasi kemungkinan CO2 dan pengurangan konsumsi bahan bakar dan memiliki ketidakpastian yang signifikan pada daya tahan dan biaya pengoperasian selama masa pakai kendaraan.” tutupnya.

- Advertisement -