NMAA News – Desainer mobil legendaris Jepang Mazda Miata, Shunji Tanaka meninggal dunia, 12 Desember lalu. Kabar tersebut pertama kali diungkap oleh teman dekatnya melalui media sosial, Facebook.
Tanaka-san memegang peran penting menghidupkan unit roadster paling berpengaruh di Jepang yang menjadi legenda hingga sekarang. Dilansir dari thedrive.com, sebelum kepergiannya sang maestro sempat mengucapkan kalimat terakhir. “Saya tidak menyesal dalam hidup saya,” ujarnya.
Selama hidupnya, Tanaka-san berdedikasi tinggi terhadap dunia otomotif Jepang, terutama bagi pabrikan Mazda.
Pada 1986 lalu, sebuah the “light weight sports” atau LWS (kemudian diberi nama kode J58G secara internal) menjadi cikal bakal kelahiran Miata. Selama berkiprah di dunia desain mobil selama 15 tahun, mulanya ditugaskan mengembangkan tampilan Mazda Sentia/929 1991-95.
Saat itu, sumber daya dan tenaga kerja Mazda terus-menerus terkuras. Salah satu peluang membangkitkan perusahaan diyakini dengan mengembangkan LWS untuk mencapai produksi. Meskipun bertanggung jawab atas Sentia, Tanaka mengerjakan kedua proyek secara bersamaan. Tim desainer pimpinannya di Hiroshima bahkan tidak dilengkapi peralatan canggih saat itu.
Seperti yang dilakukan banyak pabrikan, digelar kompetisi desain antar studio untuk mengembangkan desain Miata. Terpilihlah Tiga finalis berasal dari Tokyo, Hiroshima, dan Los Angeles. Tapi, salah satu peserta asal California Tsutomo “Tom” Matano dan Mark Jordan menghadirkan versi berbeda berwujud sedan convertible.
Ide segar tersebut akhirnya terpilih sebagai pemenang. Tanaka menganggap prototipe desain tersebut itu terlalu mirip dengan Mazda RX-7 (FC). Alhasil, dia memperpendek jarak sumbu roda dan mengupas lapisan “kulit”, setebal 1,2 inci di beberapa area, untuk menonjolkan bentuk yang kita kenal sekarang.

Kemudian, desain tersebut dihadirkan dalam versi tanah liat. Menggunakan garis dan lekukan sederhana.
“Setiap kali saya menggunakan pahat untuk membuat masking Noh, saya selalu menghormati kesederhanaan tradisional dan lekukan sempurna yang telah diturunkan selama berabad-abad,” bebernya, melalui sesi wawancara saat itu.
“Banyak perasaan dan keinginan yang berbeda disimpan di dalam topeng, penampilannya tergantung pada cahaya dan bayangan yang berubah. Ini adalah ciri khas orang Jepang, dan sama sekali berbeda dari gagasan barat yang mengungkapkan kesempurnaan secara konkret,” lanjutnya.

Tanaka melanjutkan desain di unit Mazda 929. Hingga akhirnya, ND Miata generasi keempat tidak terlihat seperti aslinya, dengan lebih banyak lekukan dan sudut dari sebelumnya, meskipun diracik menggunakan komposisi serupa. Dan sekarang, perubahan di tren elektrifikasi Mazda mulai terbuka. Pasalnya, perusahaan mengumumkan mulai memproduksi lini produk elektrifikasi di unit Miata pada 2030 mendatang.
Selamat Jalan, Maestro

