NMAA News – Setiap tanggal 1 Mei di tiap tahunnya selalu diperingati sebagai hari buruh internasional atau dikenal labor day. Peringatan yang disebut juga dengan istilah May Day ini pertama kali muncul di Amerika Serikat yang bermula dari perjuangan mendapatkan jam kerja 8 jam sehari di Chicago abad ke-19.
Saat itu, sistem kapitalis menguasai industri Amerika, buruh harus kerja selama 16 jam sehari. Sehingga mereka menuntut pengurangan jam kerja selama 8 jam. Federasi Buruh Amerika menetapkan 1 Mei 1886, sebagai hari buruh dan buruh di seluruh negeri harus mogok untuk menuntut 8 jam hari kerja tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan tuntutan para buruh atau kelas pekerja di industri otomotif asal AS, Ford. Tepat pada 1 Mei 1926, perusahaan Ford Otomatif Company mengumumkan kebijakan baru berupa 5 hari kerja, 40 jam seminggu dengan upah 5$ per hari.Kebijakan ini diterapkan secara merata para buruh di pabrik-pabrik otomotifnya.
Foto: NY Times
Meski tidak diketahui secara lengkap, kelanjutan dari kilas sejarah ini. Secara singkat, saat itu perusahaan menjadi percontohan bagi lini industri di sekitanya. Akhirnya, berlanjut pada Agustus 1926, ketika kebijakan kian terwujud ke sejumlah cabang kantor Ford lainnya.
Atas dasar tersebut, kekuatan masa aksi dari kaum buruh yang solid dan konsisten pada akhirnya meruntuhkan arogansi pihak korporat. Sebab, perusahaan mobil milik Henry Ford di Detroit, Amerika Serikat ini diketahui melanggar aturan tenaga kerja setempat.
Tercatat, pada 1914 saat angka pengangguran meninggi. Perusahaan justru membawa ‘angin segar’ dengan mengumumkan kebijakan membayar buruh pria dengan besaran upah minimum 5$ untuk jam kerja (8) delapan jam per hari. Angka ini tergolong meningkat dari upah sebelumnya sekitar 2,34 $ per hari dengan waktu (9) sembilan jam kerja.
Sontak, pemberitaan ini mengejutkan banyak pihak. Ibaratnya, upah 5$ per hari adalah hampir dua kali lipat dari upah yang dihasilkan para buruh otomotif saat itu. Alhasil, langkah perusahaan diapresiasi oleh para pengamat. Terlebih, mereka sanggup meningkatkan produktivitas para pekerja. Di sisi lain Perusahaan juga dinilai semakin loyalitas serta kebanggaan di antara para buruh Ford.
Foto: NY Times
Meski tidak langsung diimplementasikan, keputusan mengurangi jam kerja dari enam menjadi lima hari kerja pada awalnya dibuat tahun 1922. Seperti dikutip sebuah artikel The New York Times, Maret 1922, melalui History org.
Putra Henry Ford yang menjabat sebagai presiden perusahaan, Edsel Ford mengemukakan bahwa “Setiap orang membutuhkan lebih dari satu hari seminggu untuk istirahat dan rekreasi. Perusahaan Ford selalu berusaha mempromosikan (kehidupan) yang ideal bagi para karyawannya. Kami percaya bahwa untuk hidup dengan baik, setiap pria harus punya lebih banyak waktu luang yang dihabiskan bersama keluarganya,” katanya.
Henry Ford mengatakan: “Sudah saatnya untuk melepaskan diri dari gagasan bahwa waktu luang untuk buruh adalah ‘waktu yang hilang’ untuk pengusaha.” Seketika itu, hari kerja Senin-Jumat menjadi praktik standar di setiap industri.