NMAA News Flash – Daihatsu Gran Max dan dua mobil rebadge lainnya sempat terdampak instruksi pemerintah Jepang terkait izin pengiriman unit mobil.
Melalui izin tipe kendaraan/Vehicle Type Approval (VTA), Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang (MLIT) sempat menangguhkan aktivitas pengiriman mobil Daihatsu Gran Max, Toyota Town Ace, dan Mazda Bongo.
Namun, melalui informasi dalam siaran pers resmi Daihatsu, MLIT telah resmi mencabut instruksi tersebut dan memperbolehkan pengiriman beberapa mobil buatan Jepang tersebut.
“Mereka (MLIT) telah mencabut instruksinya untuk menangguhkan pengiriman lima model, Toyota Probox, Mazda Familia Van, Daihatsu Gran Max Cargo, Toyota Town Ace Van, dan Mazda Bongo Van, karena kendaraan tersebut telah dipastikan memenuhi standar Undang-Undang Kendaraan Angkutan Jalan,” tulis Daihatsu dalam siaran persnya belum lama ini.
Atas arahan tersebut, kini Daihatsu dapat melanjutkan pengiriman dan produksi mobil-mobil tersebut sembari membuka komunikasi dengan pihak perusahaan penjual dan pemasok pengiriman unit mobil.
“Saat melanjutkan pengiriman dan produksi, kami akan berkomunikasi erat dengan perusahaan penjualan dan pemasok terkait serta melakukan persiapan untuk menghindari kebingungan,” sebutnya.
“Ke depannya, kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, seperti melakukan pengujian dengan otoritas sertifikasi yang hadir, sesuai dengan indikasi dari MLIT, sambil secara hati-hati memastikan bahwa pelanggan kami dapat mempercayai kendaraan kami untuk mendukung kehidupan sehari-hari mereka sebagai sebuah perusahaan,” lanjutnya.
Dilansir nmaa.co.id dari NHK, dampak pencabutan aktivitas pengiriman sementara ini hanya terjadi di Jepang. Di sisi lain MLIT masih terus melakukan inspeksi secara menyeluruh yang sebelumnya ditemukan pelanggaran fatal pada model pikap Daihatsu.
Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata, menemukan kejanggalan terhadap kinerja airbag saat uji tabrak. Saat sesi pengujian berlangsung, ditemukan airbag dalam keadaan non aktif berdasarkan sebuah timer.
Padahal, komponen keselamatan ini terbilang vital saat terjadi benturan keras yang membahayakan pengendara maupun penumpang. Pengatur waktu disetel secara khusus selama sesi uji tabrak berlangsung.
Seharusnya, saat sensor membaca benturan airbag otomatis berfungsi normal.

