Ini Kata AKLP: Impor 105 Ribu Pick-Up India Bisa Guncang Industri Kaca Pengaman Otomotif!

0
Proses produksi di pabrik Suzuki
- Advertisement -

NMAA News – Rencana pemerintah mengimpor 105.000 unit pick-up dari India dalam bentuk kendaraan utuh (CBU) memunculkan sorotan serius dari industri kaca pengaman otomotif.

Menurut Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP), kebijakan ini berpotensi menekan permintaan kaca pengaman yang menjadi input penting produksi kendaraan roda empat nasional.

Yustinus H. Gunawan, Ketua Umum AKLP, menjelaskan, industri kaca lembaran domestik memiliki kapasitas terpasang 2,9 juta ton per tahun yang saat ini beroperasi dengan tingkat utilisasi 66,9%.

Sementara itu, sepuluh produsen kaca pengaman untuk kendaraan bermotor mengoperasikan kapasitas 90.293 ton per tahun atau setara 2,25 juta set kaca, dengan utilisasi hanya 42%. Sedangkan kapasitas produksi kendaraan roda empat nasional mencapai 2,59 juta unit per tahun.

“Struktur ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi nasional masih memiliki ruang optimalisasi signifikan. Impor CBU sebanyak 105.000 unit bisa menurunkan permintaan kaca pengaman hingga 10% dari kebutuhan untuk mencapai target produksi satu juta unit pada 2026,” ungkap Yustinus.

AKLP menekankan bahwa industri kaca pengaman otomotif telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 8210:2018 melalui Permenperin No. 15 Tahun 2025, serta memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) rata-rata di atas 50%.

Hal ini menegaskan kontribusi sektor kaca pengaman terhadap nilai tambah domestik dan penguatan industri nasional.

Untuk menjaga kesinambungan industri lokal, AKLP merekomendasikan penggunaan skema incomplete knock down (IKD) bila impor tetap diperlukan. Skema ini memungkinkan komponen yang belum tersedia di dalam negeri diimpor, sementara perakitan dan penggunaan kaca pengaman lokal tetap dijalankan.

“Pendekatan selektif berbasis struktur kapasitas industri akan lebih efektif dalam mendukung industrialisasi nasional dan menjaga keberlanjutan sektor kaca lembaran serta kaca pengaman kendaraan bermotor,” tambah Yustinus.

Dengan kata lain, pemilihan strategi impor yang tepat akan membantu Indonesia mempertahankan daya saing industri otomotif nasional, sambil mendorong nilai tambah dari produksi komponen lokal.

- Advertisement -