NMAA News – Kadung dikenal dengan cara kerja yang hampir sama di kalangan car enthusiast, sistem penggerak roda atau biasa disebut Drivetrain berjenis All Wheel Drive dan 4Wheel Drive memiliki karakteristik berbeda. Sistem ini dikonsepkan untuk mengakomodir kekurangan yang kerap muncul di teknologi Front Wheel Drive (FWD) dan Rear Wheel Drive (RWD).
Tapi kedua sistem tersebut punya perbedaan yang signifikan. Terutama yang paling menonjol sistem All Wheel Drive (AWD) tidak memiliki switch untuk memilih opsi setelan penggerak roda mobil.
Jadi empat roda mobil mendapat suplai tenaga maksimal dari mesin, sehingga saat melewati medan berat dan terjadi selip di roda belakang, roda depan otomatis menerima daya menggantikan bagian belakang. Ketika melawati tikungan tiap roda memiliki pasokan tenaga berbeda sesuai kebutuhan. Karena distribusi tenaga ditur oleh piranti center differential yang terletak di ban depan, belakang dan lini tengah mobil.

Sejumlah pabrikan punya cara tersendiri menciptakan sistem penggerak roda ini yang dibangun dengan standar otentik. Karena hadirnya fitur drive train ini merupakan pengembangan dari sistem penggerak FWD maupun RWD.
Hal yang signifikan dapat dirasakan saat berkendara, baik kontur jalan kasar sekalipun, AWD dapat menghasilkan traksi untuk menunjang akselerasi maksimal yang dideteksi oleh sistem komputer.
Seperti di ranah kejuaraan reli yang biasanya menggunakan unit sedan atau hatchback. Lihat saja gaharnya sistem Drivetrain yang dinamai berbeda oleh pabrikan manufaktur seperti Quattro milik Audi, Xdrive milik BMW, Symmetrical All Wheel Drive (SAWD) milik Subaru atau kendaraan berbasis supercar.

Saat menjajal kondisi jalan normal komputer akan memerintahkan penggerak roda dengan komposisi penyaluran torsi sebesar depan dan belakang 40:60 meliputi roda depan dan belakang. Angka ini tergantung kondisi jalan, karena sistem dapat memerintahkan suplai yang lebih besar hingga mencapai 60:80 depan dan belakang. Sistem ini biasa diterapkan sejumlah pabrikan sportcar untuk meningkatkan kecepatan laju selama berkendara. Seperti yang terdapat dalam sistem Lamborghini Aventador atau Mechagodzilla Nissan, Skyline GT-R R35.

Sistem berbeda muncul di penggerak roda 4WD, seperti telah disinggung di atas memiliki switch untuk mengontrol penyaluran tenaga ke roda. Sistem ini diatur lewat perangkat transfer case. Nantinya, sistem 4WD dapat menyetel dua alat differential dan pemindah tenaga ke empat roda.
Artinya, mobil bisa menggunakan penggerak roda dua atau dan berpenggerak empat roda. Fitur yang tersedia dapat diatur dengan komposisi 50:50 terdapat dalam mode 4H (high Range, 4L (Low Range). Atau juga Differential Lock yang diaktifkan secara manual.

Fitur yang identik dengan mobil off road atau memiliki ground clearance tinggi ini dinilai lebih optimal untuk melibas perjalanan terjal. Karena memerlukan cengkraman kuat seperti saat bermanuver di jalanan terjal, tikungan tajam, atau bebatuan. Sedangkan untuk kondisi jalan normal,opsi penggunaan RWD diaktifkan.
Uniknya, sistem penggerak ini bisa dirubah hanya mengandalkan dua roda lalu disalurkan ke roda yang lainnya atau 4X2. Setelan tersebut membuat mobil dengan sistem 4WD cenderung irit bahan bakar.
Beberapa mobil yang memiliki sistem drive train ini biasanya berukuran besar seperti Range Rover, Jeep Cherokee, Toyota Land Cruiser lansiran 90’an atau Jimny lansiran terbaru. Varian mobil yang memiliki perangkat 4WD cenderung memiliki haraga yang lebih mahal. Selisihnya bisa mencapai hampir puluhan juta.

